(Arrahmah.id) - Hari ini dunia sedang tidak baik-baik saja. Eskalasi global akibat meletusnya perang Iran versus Amerika–Israel terus merambat ke berbagai aspek kehidupan.
Iran, yang membalas serangan Israel–Amerika, menargetkan 14 pangkalan militer Amerika di sejumlah negara Timur Tengah.
Penguasaan Selat Hormuz, sebagai salah satu urat nadi ekonomi dunia, oleh Iran mulai terasa dampaknya hingga ke negara kita.
Merespons eskalasi yang semakin memanas, khususnya di kawasan tersebut, umat Muslim sebagai populasi terbesar di dunia seharusnya mampu mengambil sikap dan posisi.
Tidak hanya di media sosial, tetapi juga sebagai hamba Allah Ta’ala yang berakal dan mampu membaca tanda-tanda perubahan zaman.
Pahami Peta dan Fakta
Dalam situasi perang modern, konflik sering kali dimulai dari narasi yang beredar luas. Di dalamnya terdapat berbagai tipu daya dan permainan algoritma yang harus diwaspadai.
Memahami peta zaman berarti juga memahami fitnah zaman, serta menjalankan kewajiban tabayun (check and recheck). Eskalasi militer hari ini bukan sekadar peluru dan jet tempur, tetapi juga perang narasi yang hadir dalam genggaman melalui gawai kita.
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Siapakah “orang fasik” dalam konteks geopolitik hari ini? Ia bisa hadir dalam bentuk propaganda media sosial atau informasi dari pihak asing.
Sosoknya mungkin tidak terlihat, tetapi di baliknya ada “war room” yang menyusun narasi. Ruang itu bernama newsroom, tempat opini dikemas seolah-olah sebagai fakta, padahal bisa jadi merupakan rekayasa.
Propaganda asing kerap bertujuan memecah belah umat menjadi faksi-faksi yang saling bertentangan dan membenci, terutama karena perbedaan pandangan politik luar negeri.
Bahkan, dinamika politik dalam negeri pun tak luput dari upaya memanfaatkan situasi ini untuk memperkeruh keadaan melalui berbagai manipulasi algoritma.
Dalam sejarah, terdapat pelajaran dari Sulthanul Ulama, Al-Izz Ibnu Abdus Salam. Beliau bukan hanya faqih dalam ilmu agama, tetapi juga memahami peta zaman. Ia menekankan pentingnya maslahat bangsa di tengah krisis.
Sejarah mencatat ketegasannya dalam menjaga kedaulatan saat ancaman Mongol mengintai. Melalui kaidah maslahah mursalah, beliau menegaskan bahwa menjaga keutuhan negara dan ekonomi rakyat merupakan inti dari keberlangsungan sebuah bangsa.
Bersatu Menjaga Bangsa
Ketika harga energi melonjak dan beban fiskal negara meningkat akibat krisis di Selat Hormuz, maka jihad kita hari ini bukanlah berangkat perang ke negeri orang, melainkan menjaga stabilitas domestik. Tidak ada kemaslahatan dalam perpecahan, termasuk yang terjadi di media sosial akibat keberpihakan pada negara tertentu.
Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585).
Hadis ini mengingatkan pentingnya menjaga kekuatan internal bangsa di tengah konflik global. Waspadai skenario adu domba. Krisis di Timur Tengah kerap dimanfaatkan oleh aktor asing untuk mengimpor konflik sektarian ke dalam negeri. Tujuannya agar kita sibuk bertengkar, menjadi lemah, dan mudah didikte.
Perlu disadari bahwa lemahnya kedaulatan ekonomi dan pangan dapat membuka pintu penjajahan gaya baru.
Pelajaran penting bagi NKRI saat ini adalah kemandirian. Bangsa ini harus didukung untuk berdaulat dalam energi dan pangan agar tidak bergantung pada kekuatan asing.
Jangan biarkan aktivitas di media sosial justru menjadi alat kepentingan pihak luar yang ingin melihat Indonesia terpecah.
Konflik atas nama Sunni–Syiah atau perdebatan kepentingan di media sosial sering kali tidak membawa manfaat.
Sebaliknya, hal tersebut justru melemahkan kondisi internal. Yang perlu dilakukan adalah menjalankan pesan Rasulullah SAW untuk saling menguatkan, khususnya di antara kaum Muslimin di Nusantara.
Gugurnya putra-putra terbaik bangsa di Timur Tengah demi menjaga perdamaian merupakan sinyal serius. Laporan di lapangan menunjukkan bahwa prajurit TNI yang gugur di Lebanon Selatan bukan karena kecelakaan, melainkan akibat serangan yang terukur.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Indonesia dapat terseret ke dalam konflik yang lebih luas.
Oleh karena itu, sesama Muslim dan sesama anak bangsa, mari kita menjaga persatuan dan kedaulatan.
Bersama TNI, Kepolisian, dan seluruh rakyat, kita harus memperkuat pertahanan serta keamanan dari berbagai ancaman, baik yang nyata maupun yang tersembunyi melalui perang informasi.
(ameera/arrahmah.id)
