GAZA (Arrahmah.id) — Menteri Warisan “Israel”, Amihai Eliyahu, pada Rabu (30/7) menyerukan pendudukan penuh atas seluruh Jalur Gaza dan menganjurkan agar nasib tawanan “Israel” yang masih ditahan oleh pejuang Palestina diabaikan. Pernyataan tersebut memicu kecaman luas dari keluarga para tawanan dan tokoh-tokoh oposisi.
Eliyahu, yang berasal dari partai ekstremis Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi), menyatakan bahwa “Gaza harus menjadi wilayah Yahudi”, dalam pernyataan yang dikutip oleh media-media “Israel”.
Ia juga menuntut agar para tawanan didefinisikan sebagai tawanan perang dan pembebasan mereka tidak menjadi prioritas saat ini, melainkan dapat ditangani setelah perang berakhir.
Menurut otoritas “Israel”, sekitar 20 orang tawanan masih diyakini hidup dan berada di tangan pejuang Palestina di Gaza.
Bukan kali ini saja Eliyahu melontarkan pernyataan kontroversial. Pada Mei lalu, ia menyerukan penerapan kelaparan massal terhadap rakyat Gaza dengan menargetkan gudang-gudang makanan untuk memaksa mereka melakukan migrasi paksa. Tak hanya itu, pada bulan pertama agresi genosida “Israel” ke Gaza pada Oktober 2023, Eliyahu sempat menyerukan penggunaan bom nuklir terhadap wilayah tersebut.
Kecaman Keluarga Tawanan dan Oposisi
Pernyataan terbaru Eliyahu mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan. Dalam sebuah pernyataan bersama, keluarga para tawanan menyebut bahwa seruan untuk mendefinisikan para tahanan sebagai tawanan perang mencerminkan “kegagalan moral yang sangat serius”.
Mereka menegaskan bahwa Eliyahu tidak mewakili suara rakyat yang menginginkan semua tawanan segera dipulangkan dan perang dihentikan.
Pemimpin oposisi “Israel”, Yair Lapid, menyebut pernyataan Eliyahu sebagai bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. “Menyerukan agar tawanan dibiarkan mati di tangan perlawanan Palestina setelah sebelumnya mengusulkan pengeboman Gaza dengan bom nuklir, adalah bentuk kegilaan yang membahayakan keamanan dan posisi internasional ‘Israel’,” tegasnya.
Lapid menambahkan bahwa kegagalan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memecat Eliyahu menunjukkan bahwa pemerintah telah benar-benar mengabaikan nasib para tawanan.
Senada dengannya, ketua Partai Demokrat “Israel”, Yair Golan, menyatakan bahwa Eliyahu hanya mengungkap secara gamblang apa yang selama ini dilakukan dan disembunyikan oleh pemerintah. Ia menegaskan bahwa pemerintah sejak lama telah memutuskan untuk mengorbankan para tawanan demi agenda politiknya sendiri.
Netanyahu sendiri kini menghadapi tuduhan bahwa ia sengaja mengulur proses gencatan senjata demi mempertahankan kekuasaan, dengan dukungan dari para tokoh ekstremis di dalam kabinetnya.
“Israel” masih terus melanjutkan agresi brutalnya ke Gaza sejak Oktober 2023, dengan korban jiwa dan kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
(Samirmusa/arrahmah.id)
