RAQQA (Arrahmah.id) -- Pemerintah Suriah mengumumkan pembebasan sejumlah tawanan perempuan dan anak yang sebelumnya ditahan dalam fasilitas yang dikontrol oleh Syrian Democratic Forces (SDF), sebagai bagian dari gencatan senjata dan proses rekonsiliasi yang tengah berlangsung di negeri itu.
Pernyataan ini disampaikan melalui media sosial oleh akun yang memantau perkembangan di Suriah, dan mencerminkan dinamika terbaru pascakontrol Damaskus atas wilayah-wilayah strategis seperti Raqqa.
Dilansir Rudaw (18/1/2026), pembebasan ini dilakukan di tengah kesepakatan yang lebih luas antara pemerintah Suriah dan kelompok Kurdi terkait pertukaran tahanan dan integrasi wilayah utara ke dalam administrasi pusat, menyusul penarikan pasukan SDF dari sejumlah kota besar termasuk Raqqa.
Data dari laporan independen menunjukkan bahwa selama beberapa tahap pertukaran tahanan sebelumnya, ratusan narapidana telah dibebaskan dari penjara yang dikelola oleh SDF sebagai bagian dari implementasi perjanjian kesepakatan antara kedua pihak.
Pengamat lapangan mengatakan bahwa pembebasan perempuan dan anak ini merupakan langkah simbolis penting dalam rangka meredakan ketegangan dan membuka jalan bagi reintegrasi sipil di kawasan yang sempat dilanda konflik berkepanjangan.
Pemerintah Suriah menyatakan bahwa setiap pembebasan tahanan akan diikuti oleh pemeriksaan keamanan dan proses hukum domestik, memastikan bahwa individu yang dibebaskan tidak kembali ke aktivitas ekstremis dan dapat direintegrasikan ke masyarakat dengan dukungan rehabilitasi.
Sementara itu, masyarakat sipil di Raqqa dan daerah sekitarnya menyambut positif pembebasan ini, melihatnya sebagai bagian dari pergeseran kekuasaan yang lebih stabil setelah kekuasaan SDF di wilayah tersebut mereda menyusul perundingan dan gencatan senjata baru yang didukung oleh pemerintah Suriah. (hanoum/arrahmah.id)
