SWEIDA (Arrahmah.id) – Sheikh Yusuf Jarbou', tokoh spiritual tertinggi komunitas Druze di Suriah, menyatakan bahwa mayoritas warga Sweida menyambut baik kesepakatan damai dengan pemerintah Suriah, yang diharapkan bisa mengakhiri konflik bersenjata dan mengembalikan stabilitas di wilayah tersebut.
Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera pada Rabu (16/7), Sheikh Jarbou’ mengatakan bahwa jika kesepakatan ini diajukan kepada referendum publik di Provinsi Sweida, maka mayoritas rakyat akan menyetujuinya. Ia menegaskan bahwa kesepakatan itu mewakili harapan untuk keluar dari krisis dan kekacauan berdarah yang telah melanda kota selama beberapa hari terakhir.
Kesepakatan tersebut mencakup penghentian baku tembak, penarikan pasukan militer dan keamanan dari kota, serta penempatan aparat keamanan lokal untuk menjaga stabilitas. Jarbou’ menekankan bahwa jika kekerasan terus berlanjut, warga tidak akan bisa keluar rumah, bahkan sekadar untuk mencari makan.
Meski mendapat dukungan luas dari rakyat dan tokoh spiritual Druze, kesepakatan itu ditolak oleh tokoh oposisi Hekmat al-Hijri yang dikenal dekat dengan “Israel”. Ia menyatakan akan terus melawan pemerintah hingga "pembebasan seluruh wilayah kota" tercapai.
Namun, Jarbou' menyatakan bahwa al-Hijri tidak mewakili mayoritas dan kelompok yang dipimpinnya telah gagal menghadapi kekuatan pemerintah. “Mereka justru membawa kota ini ke dalam kekacauan, pembunuhan, dan kehancuran,” katanya.
Lebih lanjut, Jarbou’ mengecam agresi militer “Israel” yang memanfaatkan kekacauan di Sweida untuk melancarkan serangan udara ke beberapa wilayah Suriah, termasuk markas besar militer dan area sekitar istana presiden di Damaskus. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan agresi terhadap komunitas Druze yang merupakan bagian dari Suriah.
“Beberapa pihak mencoba memanfaatkan kondisi yang ada untuk mengadu domba dan menciptakan permusuhan terhadap komunitas kami,” tambahnya. Ia menyerukan dukungan terhadap kesepakatan yang dianggap mampu menyelamatkan kota dari kehancuran total.
Sementara itu, militer “Israel” memperluas serangan ke wilayah-wilayah Suriah, termasuk Sweida dan Daraa, dengan dalih membela komunitas Druze. Bahkan mereka mengirimkan pasukan tambahan ke wilayah Julan (Golan) Suriah yang masih diduduki.
Pemerintah Suriah mengecam keras agresi “Israel” dan menegaskan haknya untuk membela kedaulatan negaranya. Damaskus juga telah mengajukan protes resmi ke Dewan Keamanan PBB dan menuntut langkah cepat untuk menghentikan pelanggaran “Tel Aviv” terhadap wilayah Suriah.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyampaikan keprihatinan atas serangan “Israel” di Suriah dan mengaku telah menghubungi pihak-pihak terkait untuk membahas ketegangan tersebut.
(Samirmusa/arrahmah.id)
