SAN'A (Arrahmah.com) - Pemimpin koalisi negara-negara Teluk yang berusaha menengahi krisis politik Yaman menyerah pada hari Rabu (18/5/2011) dan dilaporkan telah meninggalkan Yaman, pihak oposisi dan pemimpin pemerintah mengatakan.
Yaman terombang-ambing selama tiga bulan protes besar-besaran menuntut penyingkiran Presiden Ali Abdullah Saleh yang berkuasa lebih dari tiga dekade.
Dewan Kerjasama Teluk (GCC) mengklaim telah berusaha keras untuk menengahi kesepakatan bagi Saleh untuk meninggalkan kekuasaan jika Saleh ingin bebas dari penuntutan. Saleh dinilai melecehkan kesepakatan bulan lalu, ketika kepala GCC, Abdul-Latif al-Zayyani, melakukan kunjungan untuk memecahkan kebuntuan yang melanda Yaman.
Namun, al-Zayyani, yang berasal dari Bahrain, mengakhiri kunjungan lima harinya pada Rabu (18/5) tanpa menutup kesepakatan tersebut.
Di Washington, Gedung Putih mengatakan bahwa John Brennan, yang merupakan asisten untuk Presiden AS Barack Obama, menelepon Saleh pada hari Rabu (18/5), mendesak Saleh untuk menerima rencana yang ditengahi GCC. Brenan mengklaim bahwa rencana GCC merupakan "jalan terbaik bagi masa depan Yaman untuk menjadi bangsa yang lebih aman, bersatu, dan sejahtera."
Hal ini merupakan perubahan sikap AS terhadap Saleh, yang dianggap sebagai sekutu dekat negara Paman Sam itu dalam memerangi al-Qaeda Yaman.
Jurubi cara Oposisi, Mohammed al-Sabri, mengatakan bahwa al-Zayyani pergi karena dia tidak bisa mendesak Saleh untuk menandatangani kesepakatan.
Al-Sabri juga menyatakan bahwa Saleh telah berulang kali berusaha untuk mengubah kesepakatan dengan menambahkan sejumlah persyaratan yang ditolak oleh oposisi. (althaf/arrahmah.com)
Negara-negara Teluk menyerah mediasi Yaman
Althaf
Kamis, 19 Mei 2011 / 16 Jumadilakhir 1432 12:34
