Memuat...

35.000 Warga Gaza Kehilangan Pendengaran Akibat Suara Bom

Zarah Amala
Sabtu, 4 April 2026 / 16 Syawal 1447 10:03
35.000 Warga Gaza Kehilangan Pendengaran Akibat Suara Bom
Ribuan anak kehilangan pendengaran akibat suara ledakan di Gaza (Foto: tangkapan video)

GAZA (Arrahmah.id) - Dampak jangka panjang dari perang di Jalur Gaza terus menghantui warga sipil, terutama anak-anak. Laporan medis terbaru mengungkapkan bahwa ribuan anak kini menderita gangguan pendengaran serius akibat suara ledakan yang memekakkan telinga serta minimnya fasilitas medis untuk perawatan telinga.

Kisah Sondos, bocah perempuan berusia 6 tahun, menjadi potret pilu dari krisis ini. Sondos telah kehilangan 50% kemampuan pendengarannya, sebuah kondisi yang memutus jembatan komunikasinya dengan keluarga dan teman sebaya. Meski kini ia menggunakan alat bantu dengar, ayahnya menjelaskan bahwa perangkat tersebut tidak cukup. Sondos membutuhkan operasi implan koklea, prosedur yang mustahil dilakukan di Gaza karena blokade Israel yang melarang masuknya peralatan medis canggih.

Dr. Ramadan Hussein, yang bekerja di pusat pemeriksaan pendengaran, menyatakan bahwa perang telah menyisakan ribuan orang dengan kebutuhan intervensi pendengaran mendesak. Namun, kenyataannya pahit,s alat bantu dengar sangat langka dan sulit dimasukkan ke dalam kantong wilayah yang terkepung tersebut.

Data dari yayasan Atfaluna for Deaf Children menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, sekitar 35.000 orang di Gaza telah kehilangan pendengaran mereka atau berada di bawah ancaman risiko permanen.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025, kondisi kemanusiaan bagi 1,9 juta pengungsi tidak kunjung membaik. 'Israel' dilaporkan masih membatasi masuknya bantuan medis, peralatan perlindungan, dan bahan bangunan. Akibatnya, banyak anak yang dunianya berhenti sebelum dimulai, karena kehilangan akses pendidikan dan sosial akibat disabilitas yang sebenarnya bisa dicegah.

Secara keseluruhan, perang ini telah meninggalkan luka yang sangat dalam dengan catatan lebih dari 72.000 syuhada dan 172.000 korban luka, serta kehancuran 90% infrastruktur sipil. Bagi anak-anak seperti Sondos, perang tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga perlahan-lahan mematikan suara dunia dari telinga mereka. (zarahamala/arrahmah.id)