TEL AVIV (Arrahmah.id) — Media Ibrani melaporkan bahwa “Israel” saat ini tidak berencana menargetkan pemimpin tertinggi Iran, Mujtaba Khamenei, dalam rangka mengikuti arahan Amerika Serikat untuk menjaga figur kunci dalam struktur kekuasaan Teheran.
Dilansir dari Al Jazeera (3/4/2016], surat kabar Israel Maariv menyebut keputusan tersebut berkaitan dengan upaya mempertahankan satu sosok berpengaruh di Iran yang dapat memberikan legitimasi terhadap sistem politik, khususnya jika tercapai kesepakatan gencatan senjata di masa mendatang.
Menurut laporan itu, Washington mengirimkan pesan tegas agar tidak menyasar sejumlah tokoh penting Iran untuk saat ini. Selain Mujtaba, nama lain yang disebut termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan kepada media Amerika bahwa figur-figur lama dalam sistem Iran “telah disingkirkan sepenuhnya”, seraya menambahkan bahwa Washington kini berhadapan dengan “orang-orang yang berbeda”. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan bekerja sama dengan Ghalibaf, tergantung pada sikap politiknya.
Maariv menilai bahwa Amerika Serikat membutuhkan satu figur yang mampu “menandatangani atas nama sistem” dan memastikan komitmen terhadap setiap kesepakatan di hadapan publik Iran, elite politik, serta Garda Revolusi Iran.
Spekulasi Kondisi dan Peran Kunci
Mengutip sumber di “Israel”, laporan tersebut menyebut absennya Mujtaba Khamenei dari publik diduga disengaja. Ia bahkan dikabarkan mengalami penurunan kondisi kesehatan dan cedera pada wajah, sehingga disembunyikan untuk menjaga moral internal rezim.
Meski demikian, Maariv menegaskan bahwa Mujtaba tetap menjalankan tugasnya dan berpotensi menjadi figur sentral saat dibutuhkan, mengingat posisi simbolik dan formalnya dalam sistem Iran.
Di sisi lain, pemerintah Iran membantah spekulasi tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa Mujtaba dalam kondisi sehat, dan keterlambatan kemunculannya di ruang publik semata-mata disebabkan oleh situasi perang.
Disamakan dengan Yasser Arafat
Dalam analisisnya, Maariv membandingkan posisi Mujtaba saat ini dengan mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat menjelang penandatanganan Perjanjian Oslo.
Kala itu, Arafat digambarkan sebagai pemimpin yang “terluka dan melemah secara politik”, namun tetap menjadi satu-satunya sosok yang mampu memberikan legitimasi formal terhadap perjanjian tersebut.
Media tersebut juga menggambarkan kondisi internal Iran sebagai terpecah dan terisolasi. Konflik disebut terjadi antara kubu politik—yang mencakup presiden dan diplomat—dengan Garda Revolusi Iran yang menolak kompromi.
Tekanan dan Sinyal Perang Berkepanjangan
Menurut penilaian “Israel”, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengirim dua pesan utama: bahwa Iran mampu bertahan dan bahkan mengguncang ekonomi global, serta bahwa Donald Trump tidak benar-benar menginginkan kesepakatan, melainkan sekadar menjaga stabilitas harga minyak sambil mempertahankan citra diplomasi.
Sementara itu, tekanan terhadap kubu pragmatis di Teheran terus meningkat, terutama setelah kerusakan besar pada sektor industri, termasuk industri baja, yang dinilai sebagai pukulan strategis.
Dalam perkembangan lain, Trump melalui platformnya memuji serangan terhadap infrastruktur utama Iran dan memperingatkan bahwa operasi berikutnya akan lebih besar. Ia juga mendesak Teheran untuk segera mencapai kesepakatan sebelum situasi semakin memburuk.
Perang sendiri dimulai pada akhir Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan “Israel” melancarkan serangan terhadap Iran, memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang pasar global. Konflik ini disebut sebagai eskalasi militer terbesar sejak invasi Irak pada 2003.
(Samirmusa/arrahmah.id)
