Memuat...

Aksi Solidaritas Palestina Warnai CFD Jakarta, Massa Desak Mesir Buka Perbatasan Rafah

Ameera
Ahad, 27 Juli 2025 / 3 Safar 1447 18:32
Aksi Solidaritas Palestina Warnai CFD Jakarta, Massa Desak Mesir Buka Perbatasan Rafah
Aksi Solidaritas Palestina Warnai CFD Jakarta, Massa Desak Mesir Buka Perbatasan Rafah

JAKARTA (Arrahmah.id) - Suasana Car Free Day (CFD) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Ahad pagi (27/7/2025), berubah menjadi lautan dukungan bagi rakyat Palestina.

Ratusan orang yang tergabung dalam berbagai aliansi pemuda dan masyarakat melakukan aksi solidaritas bertajuk “Solidarity March with Global March to Gaza”.

Mereka menyerukan pembebasan Palestina dan menyoroti krisis kemanusiaan di Gaza yang semakin memburuk akibat blokade Israel.

Long March dari Kedubes AS hingga Bundaran HI

Massa aksi memulai long march dari Kedutaan Besar Amerika Serikat sekitar pukul 08.00 WIB.

Mereka membawa poster, spanduk, serta atribut yang menggambarkan penderitaan warga Gaza.

Setibanya di Bundaran HI sekitar pukul 09.00 WIB, massa sempat berbaur dengan masyarakat yang sedang berolahraga di CFD.

Tulisan-tulisan seperti “Indonesia untuk Gaza”, “YOU can’t TAKE A NEUTRAL GENOCIDE”, dan “All Eyes on Handala” terlihat jelas di antara kerumunan.

Peserta aksi juga membawa sendok dan piring, yang dibenturkan untuk menghasilkan bunyi-bunyian sebagai simbol solidaritas terhadap krisis kelaparan di Gaza.

Setelah mengelilingi Bundaran HI, massa melanjutkan perjalanan menuju Kedutaan Besar Mesir.

Di sana mereka menyampaikan tuntutan agar Mesir membuka perbatasan Rafah untuk memudahkan penyaluran bantuan kemanusiaan.

Desakan untuk Buka Perbatasan Rafah

Dalam orasinya, Sarah, Koordinator Jaringan Baik Berisik, menegaskan bahwa aksi ini dilakukan untuk menyuarakan kondisi kritis di Gaza sekaligus mendesak pemerintah Mesir mengambil tindakan nyata.

“Tuntutan hari ini yang pasti kita minta Kedutaan Besar Mesir untuk membuka batas Rafah, biar bantuan makanan khususnya masuk ke Gaza,” ujar Sarah.

Sarah juga mengungkapkan bahwa aksi ini terhubung dengan gerakan internasional. Salah satunya adalah upaya sejumlah aktivis Eropa yang mencoba mengirimkan kapal bantuan ke Gaza. Namun, kapal tersebut disita oleh pasukan Israel (IDF).

“Kapal Handala dari beberapa aktivis Eropa sudah sampai di Gaza dan mereka ditangkap oleh IDF. Jadi kita sambil menyuarakan agar dibukanya border,” lanjutnya.

Kondisi Kemanusiaan di Gaza Makin Memburuk

Krisis pangan di Gaza kini berada pada tahap kritis. World Food Programme (WFP) melaporkan pada Jumat (25/7/2025) bahwa hampir sepertiga penduduk Gaza tidak mendapatkan makanan selama beberapa hari terakhir.

Malnutrisi meningkat tajam, dengan sekitar 90.000 perempuan dan anak-anak membutuhkan perawatan darurat.

“Hampir satu dari tiga orang di Gaza tidak makan selama berhari-hari. Malnutrisi melonjak dan kita menghadapi ancaman bencana kelaparan yang semakin parah,” demikian pernyataan resmi WFP.

Blokade yang diberlakukan Israel memperburuk distribusi bantuan pangan. Penutupan perbatasan Rafah, yang menghubungkan Gaza dengan Mesir, mempersempit akses jalur logistik dan memperburuk kondisi kemanusiaan.

Tiga Tuntutan Utama Aksi

Aksi solidaritas ini diinisiasi oleh gabungan kelompok masyarakat, antara lain Aliansi Pemuda Indonesia untuk Palestina dan Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina.

Mereka mengajukan tiga tuntutan utama:

  1. Mendesak Pemerintah Mesir membuka perbatasan Rafah demi kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan.

  2. Menyerukan dukungan masyarakat internasional, termasuk Indonesia, dalam memperjuangkan keadilan bagi rakyat Gaza.

  3. Mendorong Pemerintah Indonesia mengambil langkah nyata dan berani membela Palestina, bukan hanya sebatas pernyataan politik.

“Kalau pemerintah Mesir mau akhir pemerintahannya baik, maka tolong buka perbatasan Gaza,” pungkas Sarah.

Bagian dari Gerakan Global

Aksi di Jakarta ini merupakan bagian dari gerakan global “Global March to Gaza”, yang serentak digelar di berbagai kota dunia.

Gerakan ini bertujuan menarik perhatian masyarakat internasional pada situasi di Gaza dan memberikan tekanan diplomatik kepada pihak-pihak yang terlibat dalam blokade.

Sarah menambahkan bahwa solidaritas masyarakat sipil di Indonesia diharapkan dapat memperkuat suara global untuk penghentian genosida dan krisis kelaparan di Gaza.

Resonansi di Tengah CFD

Di Bundaran HI, massa aksi sempat berbaur dengan warga yang sedang menikmati CFD. Suara benturan sendok dan piring, nyanyian yel-yel solidaritas, serta orasi dari mobil komando menggema di sekitar kawasan.

Beberapa warga turut memberikan dukungan moral dengan mengabadikan momen dan menyebarkannya di media sosial.

Para peserta juga mengedukasi masyarakat mengenai dampak blokade yang telah membuat sebagian besar penduduk Gaza kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Banyak di antara mereka yang mengenakan atribut Palestina, seperti bendera, ikat kepala, dan syal keffiyeh.

Harapan Akhir Aksi

Aksi yang berlangsung damai ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan rakyat Palestina.

Para peserta berharap suara mereka dapat memperkuat tekanan internasional agar jalur bantuan ke Gaza dibuka dan krisis kemanusiaan segera teratasi.

“Kami ingin dunia tahu bahwa kelaparan di Gaza nyata dan terjadi saat ini. Kita tidak bisa diam saja,” tutup Sarah.

(ameera/arrahmah.id)