TEL AVIV (Arrahmah.id) - Perencana militer 'Israel' dilaporkan tengah merombak skenario ancaman mereka terhadap gerakan Ansarallah di Yaman. Laporan media Ibrani baru-baru ini mengungkapkan bahwa fokus pertahanan 'Israel' kini meluas, tidak lagi hanya pada ancaman rudal dan drone, tetapi juga mencakup potensi serangan darat lintas batas (raid).
Berdasarkan analisis koresponden militer Amir Bohbot di situs berita Walla, pejabat pertahanan 'Israel' telah meninjau rekaman video yang menunjukkan para pejuang Ansarallah berlatih melakukan serangan darat menggunakan model pemukiman Yahudi dan pos militer 'Israel' sebagai target simulasi.
Pejabat keamanan 'Israel' meyakini bahwa latihan tersebut bukan sekadar propaganda simbolis, melainkan persiapan untuk serangan kompleks yang terorganisir. Video latihan tersebut menunjukkan para militan berlatih taktik infiltrasi dan penyerbuan langsung ke infrastruktur pertahanan IDF.
"Tidak ada yang meremehkan kemampuan mereka (Ansarallah), dan kami sedang bersiap sebagaimana mestinya," ungkap Bohbot dalam laporannya. Penilaian ini menunjukkan adanya pergeseran konsep operasional dari serangan proyektil jarak jauh menuju infiltrasi fisik secara langsung.
Laporan tersebut menggarisbawahi kekhawatiran khusus terhadap wilayah selatan 'Israel', terutama kota Eilat dan wilayah perbatasan sekitarnya. Sektor Eilat dipandang sebagai titik paling rentan dalam eskalasi regional, sehingga militer 'Israel' mulai mengevaluasi celah keamanan di sepanjang pendekatan selatan.
Para perencana militer sedang mempertimbangkan berbagai kemungkinan, termasuk upaya infiltrasi yang berasal dari teater operasi jarak jauh, bukan hanya dari perbatasan negara tetangga yang bersentuhan langsung.
Di sisi lain, mobilisasi militer di Yaman terus meningkat sebagai bentuk solidaritas terhadap Jalur Gaza. Menurut laporan kantor berita Saba, otoritas di Sana’a telah menyelenggarakan latihan tempur massal yang melibatkan lulusan kursus pelatihan "Al-Aqsa Flood". Para peserta menyatakan komitmen mereka untuk terus mendukung perjuangan Palestina melalui tindakan nyata.
Sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023, Ansarallah telah berulang kali menargetkan jalur pelayaran yang terkait dengan 'Israel' di Laut Merah untuk menekan Tel Aviv agar mengakhiri agresinya. Serangan-serangan ini telah mengganggu perdagangan maritim global dan memicu serangan balasan udara dari 'Israel' ke infrastruktur pelabuhan di Yaman.
Langkah terbaru 'Israel' dalam mempersiapkan pertahanan darat ini menandakan babak baru dalam ketegangan regional, di mana ancaman kini dianggap dapat menembus jauh ke dalam wilayah kedaulatan melalui metode tempur konvensional maupun asimetris. (zarahamala/arrahmah.id)
