Memuat...

Citra Satelit Ungkap Rekayasa Geografis Militer 'Israel' di Kamp Pengungsi Tepi Barat

Zarah Amala
Selasa, 17 Februari 2026 / 30 Syakban 1447 10:53
Citra Satelit Ungkap Rekayasa Geografis Militer 'Israel' di Kamp Pengungsi Tepi Barat
Kendaraan lapis baja 'Israel' memasuki kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat (Getty)

RAMALLAH (Arrahmah.id) - Sebuah analisis mendalam terhadap citra satelit mengungkap adanya perubahan geografis yang drastis dan belum pernah terjadi sebelumnya di kamp-kamp pengungsi utara Tepi Barat, meliputi Jenin, Tulkarm, dan Nur Shams. Operasi militer 'Israel' yang berlangsung secara masif telah mengubah kawasan pemukiman padat tersebut menjadi apa yang digambarkan oleh UNRWA sebagai "benteng militer" dan "kota hantu" melalui penghancuran bangunan secara sistematis serta pembangunan jaringan jalan militer yang membelah pemukiman.

Investigasi yang dilakukan oleh Unit Investigasi Digital Al Jazeera dengan membandingkan peta kronologis dan data PBB menunjukkan bahwa penghancuran yang terjadi bukanlah dampak sampingan dari pertempuran, melainkan sebuah rencana rekayasa ruang yang terencana. Di Kamp Jenin, perbandingan citra antara November 2024 hingga Januari 2026 menunjukkan setidaknya 237 bangunan telah rata dengan tanah.

Citra satelit yang menunjukkan kerusakan di kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat bagian utara (Al Jazeera + Planet Labs)

Penghancuran ini diikuti dengan pembangunan jalan militer sepanjang empat kilometer yang secara paksa membagi kamp menjadi dua wilayah utama, serta pemasangan gerbang besi dan barikade tanah di setiap akses masuk untuk mengontrol total pergerakan warga.

Pola serupa terlihat di Kamp Tulkarm, di mana sedikitnya 181 bangunan dihancurkan guna membuka jaringan jalan internal sepanjang 2,5 kilometer. Rekayasa ini secara efektif memecah blok bangunan yang dulunya terintegrasi menjadi pulau-pulau kecil yang terisolasi, sebuah taktik yang memudahkan manuver kendaraan berat militer sekaligus membatasi mobilitas penduduk setempat.

Citra satelit menunjukkan jalan-jalan yang telah dibangun atau diperlebar di kamp Tulkarm (Al Jazeera + Planet Labs)

Kondisi tak kalah parah terjadi di Kamp Nur Shams, di mana hampir separuh dari total bangunan mengalami kerusakan dengan 111 bangunan hancur total, terutama di wilayah utara yang padat penduduk. Penggalian jalan yang sangat dalam oleh buldoser militer juga dilaporkan telah menghancurkan seluruh jaringan air, listrik, dan pembuangan limbah di bawah tanah.

Citra satelit bangunan-bangunan yang hancur di kamp Nur Shams. Diambil pada 3 Februari 2026 (Al Jazeera + Planet Labs)

Dampak kemanusiaan dari operasi yang diintensifkan sejak Januari 2025 ini sangat mengerikan, dengan UNRWA mencatat sekitar 40.000 penduduk terpaksa mengungsi dari ketiga kamp tersebut. Selain menyebabkan 101 kematian dan penahanan terhadap 2.300 warga, militer 'Israel' juga dilaporkan telah mengambil alih ratusan rumah warga untuk dijadikan pos pertahanan tentara.

Para ahli hukum dan aktivis hak asasi manusia menilai bahwa kebijakan "penghapusan fitur geografis" ini bertujuan untuk mengubah wajah asli kamp pengungsi secara permanen, sehingga menyulitkan warga untuk kembali dan membangun kehidupan normal di masa depan. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlineIsraelPalestinapendudukantepi barat