GAZA (Arrahmah.id) - Perlawanan Palestina di Jalur Gaza mengklaim telah mencapai tingkat kemandirian tinggi dalam memproduksi senjata lokal, seiring dengan perang yang kini mereka sebut sebagai fase “perang kelelahan” melawan pendudukan 'Israel'.
Seorang komandan senior dari Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka sudah bertahun-tahun tidak lagi bergantung pada penyelundupan senjata dari Mesir, membantah klaim 'Israel' yang menjadikan hal tersebut sebagai dalih untuk menyerang kota Rafah.
"Yang dilakukan 'Israel' adalah upaya penghancuran berdasarkan kebohongan. Operasi Banjir Al-Aqsa telah membuktikan bahwa kami mampu menciptakan sistem persenjataan secara mandiri," ungkap sumber tersebut.
Laporan investigatif Al Jazeera menunjukkan bahwa Hamas telah memproduksi roket dan senjata lain dari limbah dan sisa perang. Salah satunya adalah roket Yasin 105 yang kini aktif digunakan di medan tempur dan terbukti mampu menghancurkan ratusan kendaraan militer 'Israel'.
Senjata lainnya, seperti ranjau Shawaz, dibuat dari bahan-bahan lokal seperti pipa besi dan pelat tembaga, dengan daya tembus tinggi terhadap kendaraan lapis baja.
Brigade al-Qassam juga mengembangkan senapan runduk al-Ghoul dengan jangkauan hingga dua kilometer dan kemampuan menembus helm dan rompi anti peluru. Senapan ini dibuat dari logam bekas pipa air besar yang sebelumnya digunakan 'Israel' untuk mencuri air dari Gaza, dan ditemukan oleh Hamas pada 2017.
Sumber Amunisi dari Laut Gaza
Unit pasukan katak milik al-Qassam dilaporkan menemukan dua kapal perang Inggris era Perang Dunia I yang karam di lepas pantai Gaza. Amunisi yang tersisa dari kapal tersebut digunakan untuk memperkuat hulu ledak roket yang menghantam wilayah 'Israel'.
Blokade yang berlangsung selama bertahun-tahun justru mendorong perkembangan sistem persenjataan mandiri. Hamas memanfaatkan reruntuhan dan logam bekas dari perang sebelumnya untuk menciptakan senjata baru di dalam lingkungan tertutup.
Selain itu, Hamas mengklaim telah menemukan dan memodifikasi peralatan pengintai serta alat penyadapan milik 'Israel' untuk digunakan kembali dalam operasi intelijen internal.
Dengan strategi ini, perlawanan Palestina di Gaza kini mengklaim dapat melanjutkan perang dalam waktu lama, menggunakan senjata buatan sendiri yang dikembangkan sepenuhnya di bawah tekanan blokade total. (zarahamala/arrahmah.id)
