Memuat...

Benarkah Jenderal-Jenderal Assad Miliki 168 Ribu Pasukan? Dokumen Al Jazeera Bongkar Fakta Mengejutkan

Samir Musa
Jumat, 2 Januari 2026 / 13 Rajab 1447 06:58
Benarkah Jenderal-Jenderal Assad Miliki 168 Ribu Pasukan? Dokumen Al Jazeera Bongkar Fakta Mengejutkan
Benarkah Jenderal-Jenderal Assad Miliki 168 Ribu Pasukan? Dokumen Al Jazeera Bongkar Fakta Mengejutkan

DAMASKUS (Arrahmah.id) — Dokumen dan rekaman percakapan rahasia yang diperoleh Al Jazeera mengungkap gambaran mengejutkan tentang kekuatan militer sisa-sisa rezim Bashar Assad di Suriah. Bocoran ini menyingkap struktur organisasi, jumlah pasukan, hingga persenjataan yang masih dikuasai jaringan perwira tinggi rezim yang dipimpin Rami Makhlouf, sepupu Bashar Assad.

Dokumen tersebut merupakan bagian dari laporan investigasi program Al-Mutaharrî Al Jazeera yang akan ditayangkan dalam waktu dekat. Di dalamnya terungkap bahwa kelompok ini memiliki struktur hierarkis rapi, dengan Rami Makhlouf berada di puncak pimpinan, disusul mantan komandan pasukan elite rezim, Suhail al-Hassan, di posisi kedua. Setelah itu terdapat mantan brigadir jenderal Ghiyats Dalla, yang dikenal sebagai tangan kanan Maher Assad.

Suhail al-Hassan

Pada level berikutnya, terdapat sejumlah komandan lapis kedua, di antaranya Ali Mahna yang menangani urusan keuangan, Shalih al-Abdullah sebagai penanggung jawab urusan militer, serta Ali al-‘Aid yang berperan dalam koordinasi antar kelompok bersenjata.

Yang paling mencolok, Al Jazeera memperoleh dokumen yang ditulis tangan langsung oleh Suhail al-Hassan dan ditandatangani atas nama “Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata”. Dokumen tersebut merinci klaim jumlah pasukan yang masih setia kepada jaringan ini.

Klaim 168 Ribu Pasukan

Dalam dokumen tersebut, Suhail al-Hassan mengklaim bahwa jumlah perwira dan prajurit yang berada di bawah komandonya mencapai sekitar 168 ribu orang. Mereka disebut tersebar di sejumlah sektor strategis, seperti Kota dan Pedesaan Homs, wilayah Al-Ghab dari Jourin hingga Salhab, sektor Hama Timur, kawasan Jableh, Bait Yashouth, Asy-Sya‘r, wilayah sekitar Bandara Jableh, kelompok-kelompok di Qardahah, hingga Damaskus.

Dokumen itu juga menyebut beberapa kelompok bersenjata utama. Di antaranya kelompok “Ahmad Sigati” yang beroperasi di Masyaf, Latakia, dan Tartus dengan jumlah sekitar 10 ribu pejuang.

Ada pula “Kelompok Homs” yang dipimpin Akram as-Souqi di bawah komando Ghiyats Dalla, dengan jumlah yang diklaim mencapai 10 ribu orang.

Rami Makhlouf

Selain itu, terdapat “Kelompok Salhab” di bawah pimpinan Kapten Ya‘rab Sya‘ban yang juga berafiliasi dengan Ghiyats Dalla, dengan jumlah sekitar 8.410 personel. Sementara kelompok Wail Muhammad di Homs disebut memiliki sekitar 6.800 pejuang.

Namun demikian, sumber peretas dan pembocor dokumen menegaskan bahwa angka-angka tersebut dipenuhi tanda tanya. Disebutkan adanya konflik internal antara Rami Makhlouf dan Suhail al-Hassan, lantaran Suhail diduga sengaja membesar-besarkan jumlah pasukan demi memperoleh dukungan dana yang lebih besar.

Persenjataan dan Aliran Dana

Selain data personel, dokumen tersebut juga mengungkap jenis dan jumlah persenjataan yang dimiliki kelompok-kelompok ini, mulai dari artileri berat, roket anti-tank, senapan, hingga peluncur RPG.

Dokumen lain yang diperoleh dari ponsel Ahmad Dunya—akuntan sekaligus penanggung jawab keuangan Suhail al-Hassan dan Rami Makhlouf—menunjukkan bahwa pendanaan jaringan ini dilakukan melalui penyaluran gaji dan dana tunai kepada para komandan kelompok dan anggota bersenjata, khususnya yang berada di kawasan pesisir Suriah.

Ghiyats Dalla dan sejumlah pimpinan kelompok bahkan disebut menerima dana secara langsung dan pribadi.

Temuan ini menegaskan bahwa meskipun rezim Bashar Assad telah tumbang, jaringan militer dan finansialnya belum sepenuhnya hilang. Klaim kepemilikan puluhan hingga ratusan ribu pasukan bersenjata menjadi sinyal serius tentang potensi ancaman keamanan dan upaya reorganisasi kekuatan lama di Suriah pasca runtuhnya rezim.

(Samirmusa/arrahmah.id)

 

SuriahHeadlineBashar al asaad