Memuat...

Dalam 48 Jam, "Israel" Membunuh Lebih dari 300 Orang di Gaza

Hanin Mazaya
Kamis, 3 Juli 2025 / 8 Muharam 1447 18:55
Dalam 48 Jam, "Israel" Membunuh Lebih dari 300 Orang di Gaza
(Foto: Anadolu)

GAZA (Arrahmah.id) – Lebih dari 300 warga Palestina telah terbunuh oleh pasukan pendudukan dalam 48 jam terakhir, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, yang menyebut bahwa "Israel" telah “melakukan 26 pembantaian berdarah” dalam periode tersebut.

Sedikitnya 73 orang telah dibunuh oleh "Israel" sejak fajar pada Kamis (3/7/2025), termasuk 33 orang pencari bantuan yang putus asa di lokasi bantuan Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang kontroversial karena didukung oleh "Israel" dan Amerika Serikat.

Tiga belas orang tewas ketika pasukan "Israel" menyerang sebuah tenda di al-Mawasi, wilayah selatan Gaza. Sementara itu, 16 orang tewas dan banyak lainnya terluka dalam serangan di Sekolah Mustafa Hafez—sebuah tempat penampungan bagi para pengungsi di sebelah barat Kota Gaza—menurut sumber medis kepada Al Jazeera.

Ahmed Mansour, seorang pengungsi Palestina yang berlindung di gedung sekolah tersebut, mengatakan:
"Kami terbangun oleh serangan udara yang ganas. Rasanya seperti gempa bumi. Orang-orang mengatakan itu adalah serangan pesawat tak berawak, tetapi suaranya mengerikan, penembakan tanpa henti. Rudal-rudal itu sangat merusak dan membakar segalanya. Para korban dibiarkan terbakar berjam-jam tanpa pertolongan. Tidak ada seorang pun di sini yang bisa menyelamatkan kami."

Dalam pernyataan pada Kamis, Kantor Media Pemerintah Gaza menegaskan bahwa serangan selama 48 jam terakhir telah menargetkan warga sipil di tempat penampungan dan pusat pengungsian yang penuh sesak, tempat istirahat umum, keluarga-keluarga Palestina yang berada di dalam rumah mereka, pasar-pasar populer, fasilitas sipil penting, serta warga sipil yang kelaparan yang sedang mencari makanan.

Laporan Al Jazeera menggambarkan suasana horor: orang-orang yang menunggu berjam-jam demi mendapatkan makanan pokok, justru disambut tembakan tiba-tiba tanpa alasan. Tembakan itu menghantam kerumunan, dan warga Palestina yang putus asa berlarian mencari perlindungan di tengah peluru yang berterbangan.

Kontraktor AS GHF Dilaporkan Gunakan Peluru Tajam

Kontraktor Amerika Serikat yang menjaga lokasi distribusi bantuan di Gaza dilaporkan menggunakan peluru tajam dan granat setrum terhadap warga Palestina yang kelaparan dan berebut makanan. Informasi ini diperoleh dari laporan serta video yang didapat oleh kantor berita The Associated Press (AP).

Dua kontraktor AS yang berbicara kepada AP dengan syarat anonim mengatakan bahwa mereka angkat bicara karena merasa terganggu oleh praktik-praktik yang mereka anggap sangat berbahaya. Mereka menyebut bahwa staf keamanan yang dipekerjakan oleh GHF seringkali tidak memenuhi syarat, tidak melalui pemeriksaan, bersenjata lengkap, dan tampaknya diberi kebebasan untuk bertindak semaunya.

GHF bukan hanya menggantikan mekanisme kemanusiaan yang telah dijalankan organisasi internasional selama beberapa dekade di Gaza, namun juga digunakan untuk menekan warga sipil secara maksimal.

Dr. Mads Gilbert, seorang dokter dan profesor kedokteran darurat asal Norwegia yang telah memberikan layanan kesehatan di Gaza selama lebih dari 30 tahun, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa operasi GHF “merupakan bagian dari rencana pasukan pendudukan ‘Israel’ dan pemerintah ‘Israel’ untuk melakukan pembersihan etnis dan mencapai tujuan genosida mereka di Gaza.”

"Ini tidak ada hubungannya dengan mengurangi kelaparan di Gaza," tegas Gilbert.

Ia menggambarkan bantuan dari GHF sebagai “setetes air di lautan” dan “operasi palsu”. Gilbert menambahkan:
"Organisasi distribusi ini bertujuan untuk menggunakan makanan sebagai umpan untuk menarik orang-orang yang kelaparan, meneror, dan membunuh mereka. Penembakan terhadap orang-orang yang berada di jalur makanan adalah kejahatan perang."

(haninmazaya/arrahmah.id)