GAZA (Arrahmah.id) - Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan gejala leptospirosis, infeksi bakteri yang ditularkan dari hewan terinfeksi seperti tikus ke manusia melalui air yang terkontaminasi, di kalangan penduduk Jalur Gaza, Kementerian Kesehatan setempat menyatakan bahwa hingga kini belum ada satu pun kasus yang terkonfirmasi.
Dalam pernyataan yang dikutip berbagai media, Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan bahwa “sebagai bagian dari pemantauan berkelanjutan terhadap situasi epidemiologis di Jalur Gaza, sejumlah kasus dugaan leptospirosis telah teridentifikasi.”
Kementerian menjelaskan bahwa kasus-kasus tersebut telah ditangani sesuai protokol yang berlaku, dengan pengambilan sampel yang kemudian dikirim ke laboratorium khusus di luar Jalur Gaza untuk diperiksa.
“Kementerian menegaskan bahwa seluruh hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil negatif, dan hingga saat ini tidak ada kasus leptospirosis yang terkonfirmasi di Jalur Gaza,” demikian pernyataan tersebut, seraya membantah secara tegas laporan yang menyebut adanya infeksi yang telah dipastikan.
Menurut laporan Al Jazeera Arabic, para pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat berulang kali mengeluhkan invasi tikus ke tempat tinggal mereka, yang menggerogoti makanan dan roti. Kondisi ini diperparah oleh sulitnya menyimpan bahan makanan akibat ketiadaan kebutuhan dasar serta puing-puing bangunan di sekeliling area pengungsian.
Turunnya suhu, hujan, keberadaan tikus, serta air limbah semakin memperparah penderitaan warga. Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa tim pengobatan preventif terus bekerja sepanjang waktu untuk memantau situasi kesehatan dan memastikan bahwa setiap perkembangan akan diumumkan melalui saluran resmi.
Gejala leptospirosis dilaporkan meliputi demam mendadak disertai sakit kepala hebat, nyeri otot, menggigil, mual, serta mata memerah.
Dr. Rami al-Salout, konsultan penyakit dalam, mengatakan kepada Al Jazeera Arabic bahwa kondisi lingkungan di Gaza, termasuk penyebaran sampah serta air yang tercemar kotoran hewan dan limbah, berkontribusi terhadap merebaknya berbagai penyakit, termasuk infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, dan hepatitis A.
Ia menjelaskan bahwa risiko penularan penyakit meningkat seiring kepadatan ekstrem di kamp-kamp pengungsian dan datangnya musim dingin, yang mempercepat penyebaran infeksi. Sistem kekebalan tubuh yang melemah, khususnya pada penderita penyakit kronis, juga meningkatkan risiko komplikasi.
Blokade 'Israel' atas Pasokan Penting
Pakar lingkungan sekaligus pejabat Kementerian Kesehatan Gaza yang bertanggung jawab atas pemantauan air dan sanitasi, Saeed Al-Aklouk, memperingatkan meningkatnya risiko penularan penyakit dari tikus kepada penduduk Gaza.
Ia mengatakan bahwa Gaza tidak memiliki fasilitas laboratorium canggih untuk mendeteksi kasus penyakit baru, khususnya yang memerlukan analisis DNA, dan hanya mengandalkan pemeriksaan dasar.
Menurut Al-Aklouk, masalahnya bukan hanya jumlah puing yang melebihi 60 juta ton, tetapi juga larangan masuknya bahan pengendali vektor penyakit. Ia menegaskan bahwa otoritas pendudukan 'Israel' terus menolak masuknya bahan pengendali tikus, nyamuk, dan lalat, sehingga pihak berwenang di Gaza tidak memiliki sarana efektif untuk mengendalikan hama.
Ia menambahkan bahwa selama lebih dari sebulan, otoritas lokal bekerja sama dengan program PBB untuk memasukkan bahan-bahan tersebut, namun seluruh upaya gagal. Persediaan insektisida dan obat pembasmi kutu di Gaza kini benar-benar habis.
Al-Aklouk memperingatkan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, lingkungan Gaza akan tetap menjadi lahan subur bagi penyebaran berbagai wabah, bukan hanya satu penyakit. Setiap hari penundaan, katanya, meningkatkan risiko terjadinya wabah besar.
Jenazah di Bawah Puing
Ia juga mencatat perubahan signifikan perilaku tikus dan hewan liar yang kini semakin berani dan bahkan dilaporkan menyerang warga, termasuk kasus gigitan di dalam tenda pengungsian. Fenomena ini, menurutnya, dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk keberadaan jenazah yang masih tertimbun di bawah puing-puing.
Saat ini, sekitar satu juta ton sampah menumpuk di lokasi yang tidak layak, sementara Gaza menghasilkan sekitar 1.300 ton sampah setiap hari yang dibuang di area permukiman, pasar, dan lingkungan tempat tinggal, sehingga mempercepat penyebaran tikus dan serangga.
Al-Aklouk menegaskan bahwa ketiadaan solusi lingkungan dan kesehatan yang menyeluruh, serta terus dicegahnya masuk bahan pengendali hama, merupakan ancaman nyata bagi kesehatan publik dan berpotensi memicu wabah yang semakin luas.
Lebih dari 71.000 Warga Palestina Tewas
Sejak 7 Oktober 2023, militer 'Israel' dengan dukungan Amerika Serikat melancarkan perang genosida di Jalur Gaza. Hingga kini, lebih dari 71.200 warga Palestina gugur, lebih dari 171.000 orang terluka, dan sebagian besar penduduk terpaksa mengungsi. Kerusakan infrastruktur disebut sebagai yang terparah sejak Perang Dunia II, sementara ribuan orang masih dinyatakan hilang.
Selain serangan militer, blokade 'Israel' telah memicu kelaparan buatan, menyebabkan ratusan warga Palestina, kebanyakan anak-anak, meninggal dunia, dan ratusan ribu lainnya berada dalam ancaman serius.
Meski kecaman internasional terus bermunculan, hingga kini hampir tidak ada langkah nyata untuk meminta pertanggungjawaban Israel. Negara tersebut tengah diselidiki atas dugaan genosida oleh Mahkamah Internasional (ICJ), sementara sejumlah pejabatnya, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, telah menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). (zarahamala/arrahmah.id)
