GAZA (Arrahmah.id) - Pertahanan Sipil Gaza melaporkan ratusan keluarga yang dipaksa mengungsi dari Gaza utara setelah mendapat ancaman dari militer 'Israel' kini tidur di tanah tanpa tempat berlindung, meski 'Israel' mengklaim adanya tenda, bantuan, dan zona aman.
Dalam pernyataannya, organisasi itu menegaskan warga bahkan tidak memiliki plastik untuk dijadikan tenda, sementara kondisi ekonomi membuat mereka tak mampu membeli perlengkapan dasar. Pertahanan Sipil menyebut 'Israel' bertanggung jawab langsung atas kondisi ini, yang dinilai sebagai pelanggaran serius hukum humaniter internasional, dan menyerukan intervensi global.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, lebih dari 900.000 warga masih bertahan di Kota Gaza, menolak upaya pengusiran ke selatan di tengah rencana 'Israel' menduduki wilayah tersebut. Lembaga itu menuding klaim 'Israel' soal ketersediaan bantuan dan fasilitas hanya propaganda untuk memaksa warga meninggalkan rumah mereka.
Sejak serangan darat dimulai, sekitar 335.000 orang telah mengungsi, termasuk 60.000 dalam tiga hari terakhir. Sementara itu, lebih dari 24.000 orang kembali ke rumah mereka di Gaza City akibat kondisi di selatan yang memburuk.
Al-Mawasi, yang ditetapkan 'Israel' sebagai zona aman, kini menampung sekitar satu juta orang. Namun, Kantor Media menyebut wilayah itu berkali-kali diserang, dengan lebih dari 114 serangan udara yang menewaskan lebih dari 2.000 orang. Kawasan yang hanya mencakup 12 persen luas Gaza itu disebut tak memiliki infrastruktur dasar, rumah sakit, atau akses air dan listrik, sehingga dinilai sebagai upaya membentuk “kamp konsentrasi”.
Badan PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan 11 sekolah UNRWA yang menampung 11.000 pengungsi hancur dalam lima hari terakhir. Lebih dari satu juta orang telah mengungsi sejak gencatan senjata Maret dilanggar. OCHA menuduh 'Israel' secara sistematis menghalangi bantuan, termasuk penutupan perbatasan Zikim dan pelarangan bahan pangan tertentu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan rumah sakit di Gaza berada di ambang kolaps, dengan hanya dua yang masih berfungsi sebagian, yakni al-Shifa dan al-Ahli. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut serangan 'Israel' telah memaksa keluarga ke wilayah yang makin sempit dan “tidak layak bagi martabat manusia,” seraya menyerukan gencatan senjata segera.
Sumber lokal melaporkan Kota Gaza kini dibombardir secara sistematis, dengan penghancuran sekolah, rumah sakit, menara, dan tempat pengungsian. Juru bicara Pertahanan Sipil Mahmoud Basal menggambarkan serangan itu seperti “larva vulkanik yang membakar tanah dan segala isinya.”
Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu pada Selasa mengonfirmasi dimulainya operasi militer besar bernama “Kereta Perang Gideon 2” untuk menguasai Kota Gaza. Menteri Pertahanan 'Israel' Israel Katz menyebut, “Kota Gaza sedang terbakar.”
PBB menyebut kondisi kemanusiaan di Gaza “katastropik” dengan warga terpaksa berjalan kaki sejauh 22 kilometer menuju al-Mawasi. Kondisi kebersihan yang buruk memicu merebaknya penyakit dan krisis kesehatan di tengah eksodus massal ini. (zarahamala/arrahmah.id)
