GAZA (Arrahmah.id) - Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengeluarkan seruan mendesak kepada komunitas internasional, memperingatkan bahwa lebih dari dua juta warga Gaza, termasuk satu juta anak-anak—terancam kelaparan. Meskipun secara teknis masih tersedia cukup makanan untuk kebutuhan Gaza selama tiga bulan, UNRWA mengonfirmasi bahwa mereka tidak dapat menyalurkan bantuan akibat blokade 'Israel' yang terus berlangsung.
Peringatan ini muncul di tengah memburuknya situasi kemanusiaan di Jalur Gaza yang berlangsung sangat cepat. Pada Sabtu (19/7/2025), seorang bayi Palestina berusia tiga bulan, Yahya al-Najjar, dilaporkan meninggal dunia akibat malnutrisi. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) juga menerima laporan mengkhawatirkan tentang anak-anak dan orang dewasa yang menderita kelaparan parah di rumah sakit-rumah sakit Gaza.
Laporan investigatif jurnalis Naseeba Moussa untuk Al Jazeera mengonfirmasi bahwa Gaza telah memenuhi kriteria internasional untuk dideklarasikan sebagai wilayah kelaparan. Berdasarkan standar global, kelaparan dinyatakan ketika sedikitnya 20% populasi mengalami kelaparan ekstrem, dan 30% anak-anak menderita wasting berat (kurus parah akibat malnutrisi), ambang batas yang telah dilampaui Gaza selama beberapa bulan terakhir.
Data dari Pusat Informasi Pemerintah Gaza menunjukkan bahwa 650.000 anak dari total populasi 2,4 juta di Gaza berada dalam risiko kematian akibat malnutrisi. Selain itu, sekitar 60.000 ibu hamil juga menghadapi kondisi yang mengancam jiwa karena kekurangan makanan dan layanan kesehatan dasar.
UNICEF turut menyuarakan keprihatinan, mencatat bahwa sedikitnya 112 anak dirawat setiap hari di rumah sakit Gaza akibat malnutrisi akut dan wasting. Sejak perang dimulai, 620 anak telah meninggal karena kelaparan, termasuk 70 anak yang wafat hanya dalam sebulan terakhir.
Rumah sakit di seluruh Gaza terus mencatat lonjakan korban jiwa akibat kelaparan maupun serangan militer 'Israel'. Menurut sumber medis, hampir 900 warga Palestina telah terbunuh saat mencoba mendapatkan bantuan pangan. Banyak dari mereka ditembak di dekat titik distribusi bantuan yang dikelola oleh apa yang disebut sebagai Gaza Humanitarian Foundation, lembaga yang didirikan dengan keterlibatan langsung 'Israel' dan Amerika Serikat.
Kondisi paling mengerikan terjadi di wilayah Al-Mawasi, Khan Yunis, Gaza selatan. Di sana, hampir satu juta pengungsi internal telah bertahan lebih dari 100 hari tanpa akses terhadap makanan pokok.
Bahkan bagi warga yang masih memiliki uang, makanan tetap di luar jangkauan. Blokade 'Israel' dan agresi militer telah menyebabkan lonjakan harga pangan secara ekstrem. Harga satu kilogram tepung melampaui $50, sepotong roti menjadi barang mewah, dan gula dijual seharga $1 per gram, setara dengan $1.000 per kilogram. Sayuran, bila tersedia, dihargai lebih dari $2 per buah. Saat ini diperkirakan sebuah keluarga memerlukan setidaknya $150 per hari untuk memenuhi makanan sekali makan.
Mencari makanan kini menjadi aktivitas mematikan. Warga Gaza terpaksa berjalan kaki minimal enam kilometer pulang-pergi menuju titik distribusi bantuan di Gaza selatan, mempertaruhkan nyawa di sepanjang perjalanan. Menurut saksi mata dan petugas medis, tentara 'Israel' berulang kali menembaki warga sipil di jalur tersebut. Pada Ahad saja, rumah sakit-rumah sakit di Gaza mencatat 116 kematian, termasuk 38 orang yang tewas saat berusaha mencari makanan.
Tenaga medis di seluruh Gaza terus memperingatkan akan runtuhnya sistem kesehatan secara total. Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kondisi kelaparan telah mencapai “tahap yang sangat parah” dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Sejak Jumat (18/7), dua orang dilaporkan meninggal akibat komplikasi yang berkaitan dengan kelaparan.
Sementara itu, juru bicara Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, Khalil Al-Daqran, menyatakan bahwa rumah sakit kini benar-benar kehabisan persediaan makanan, baik untuk pasien maupun staf. Ia juga mengungkap bahwa jumlah warga yang datang dalam kondisi sangat kurus dan lemah terus meningkat setiap hari, seiring dengan kolapsnya sistem kesehatan dan masyarakat Gaza secara keseluruhan.
Meski bukti-bukti semakin banyak, badan-badan PBB hingga kini masih enggan secara resmi mendeklarasikan kelaparan di Gaza. Para pejabat Palestina menuduh 'Israel' menggunakan kelaparan secara sistematis sebagai senjata perang, tuduhan yang juga digaungkan oleh kelompok kemanusiaan lokal dan internasional, yang menyayangkan dunia tampak menutup mata terhadap penderitaan luar biasa yang kini terjadi di Jalur Gaza yang terkepung. (zarahamala/arrahmah.id)
