GAZA (Arrahmah.id) - Tentara bayaran Amerika di sebuah lokasi distribusi bantuan yang dijalankan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga kontroversial yang didukung AS dan 'Israel', dilaporkan telah menginterogasi seorang sumber yang terkait dengan jurnalis Palestina, Mohamed Salama. Interogasi ini terjadi hanya beberapa hari sebelum 'Israel' membunuh Salama dan empat jurnalis lainnya dalam serangan ke Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, sebagaimana diungkap Middle East Eye (MEE).
Senin lalu (25/8/2025), lima jurnalis termasuk Salama, tewas dalam dua serangan 'Israel' di RS Nasser. Total 22 warga Palestina gugur, termasuk tenaga medis dan tim penyelamat.
Menurut MEE, seorang narasumber untuk investigasi Salama ditahan singkat oleh kontraktor keamanan asal AS di lokasi bantuan GHF. Mereka diinterogasi tentang identitas jurnalis di balik laporan investigatif itu. Salama memang bekerja secara anonim demi keamanan.
“Orang itu tak akan menghubungiku kalau bukan karena ia merasa ada sesuatu yang sangat salah,” kata Salama kala itu. Ditanya apakah ia merasa aman, Salama menjawab: “Kami, jurnalis di Gaza, tak pernah aman.”
MEE menghubungi dua perusahaan keamanan AS, Safe Reach Solutions dan UG Solutions, terkait dugaan interogasi itu, juga menanyakan apakah mereka memberi intelijen kepada 'Israel' soal identitas jurnalis Palestina. Keduanya tidak memberi jawaban. GHF pun menolak tuduhan itu sebagai “absurd dan sepenuhnya palsu.”
Selama 22 bulan genosida 'Israel' di Gaza, Salama melaporkan untuk MEE dan Al Jazeera. Ia pernah meliput kuburan massal berisi 15 tenaga medis yang ditembak setelah diikat, serta kasus bocah 10 tahun yang ditembak mati saat mencoba mengambil bantuan GHF.
Serangan ke RS Nasser terjadi sekitar pukul 10 pagi waktu setempat. 'Israel' menembakkan peluru tank ke balkon rumah sakit, menewaskan fotografer Reuters Hussam al-Masri dan lainnya. Sembilan menit kemudian, ketika tim medis dan jurnalis datang menolong, 'Israel' kembali melancarkan serangan kedua yang dikenal sebagai double tap strike. CNN menemukan serangan kedua ini bukan sekali, melainkan dua ledakan hampir bersamaan, menewaskan sebagian besar korban.
Kementerian Kesehatan Palestina menyebut RS Nasser sebagai satu-satunya rumah sakit yang masih berfungsi di Gaza selatan. Puluhan orang juga terluka. Korban jiwa selain Salama dan Al-Masri termasuk Mariam Abu Daqqa (Independent Arabia/AP), Moath Abu Taha (NBC News), Ahmed Abu Aziz (Quds Feed), mahasiswa kedokteran Mohammad Al-Habibi, dan petugas pemadam Imad Al-Shaer.
'Israel' mengklaim target serangan adalah sebuah kamera Hamas. Namun Hamas dan Kantor Media Pemerintah Gaza membantah keras, menegaskan bahwa serangan tersebut melanggar Konvensi Jenewa 1949 karena secara sengaja membunuh tenaga medis, penyelamat, dan jurnalis yang dilindungi hukum internasional. (zarahamala/arrahmah.id)
