GAZA (Arrahmah.id) - Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyatakan bahwa kematian Yasser Abu Syabab, pemimpin geng bersenjata yang dituduh bekerja sama dengan 'Israel', merupakan “nasib yang tidak terhindarkan bagi siapa pun yang mengkhianati rakyat dan tanah airnya serta rela menjadi alat di tangan pendudukan”.
Dalam pernyataannya, Hamas menyebut Abu Syabab melakukan “tindakan kriminal” bersama kelompoknya, tindakan yang disebutnya sebagai penyimpangan serius dari sikap nasional dan norma sosial Palestina.
Hamas juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga-keluarga besar, kabilah, dan klan yang, menurut gerakan tersebut, telah menyatakan lepas tangan dari Abu Syabab maupun siapa pun yang terlibat menyerang warga Palestina atau bekerja sama dengan 'Israel'. Hamas mengatakan pencabutan perlindungan sosial dan adat terhadap mereka menegaskan bahwa kelompok tersebut “terisolasi dari masyarakat”.
Gerakan itu menegaskan bahwa 'Israel', yang menurut Hamas gagal melindungi para kolaboratornya, tidak akan mampu melindungi siapa pun yang bekerja untuknya. Hamas menambahkan bahwa persatuan rakyat Palestina, termasuk keluarga besar, kabilah, klan, dan institusi nasionalnya, akan tetap menjadi benteng yang menjaga kohesi internal dari upaya perpecahan.
Pada Rabu (3/12/2025), Radio Tentara 'Israel' mengumumkan bahwa Abu Syabab tewas dibunuh oleh pihak tak dikenal di wilayah timur Rafah, Jalur Gaza. Namun, detail mengenai kematiannya masih belum jelas karena laporan yang muncul di media 'Israel' saling bertentangan, baik tentang lokasi maupun cara ia dibunuh.
Yasser Abu Syabab, warga Palestina kelahiran 1990 dari Rafah, berasal dari kabilah Al-Tarabīn. Ia pernah ditahan atas tuduhan kriminal sebelum 7 Oktober 2023 dan dibebaskan setelah 'Israel' membombardir kantor-kantor keamanan Gaza.
Namanya mencuat setelah Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas, menargetkan satu unit “mista’arvim” (pasukan penyamaran 'Israel') di timur Rafah pada 30 Mei 2025. Saat itu terungkap bahwa unit tersebut didampingi para agen yang direkrut untuk kepentingan Israel dan beroperasi langsung di bawah kelompok yang oleh perlawanan disebut sebagai “kelompok Yasser Abu Syabab”. (zarahamala/arrahmah.id)
