GAZA (Arrahmah.id) - Harian Israel Hayom melaporkan bahwa militer 'Israel' yang berada di Jalur Gaza baru-baru ini menemukan bukti adanya rencana matang yang disusun oleh pejuang Hamas untuk menyusup ke dalam salah satu fasilitas milik Unit 8200, unit intelijen sinyal paling elit di 'Israel'. Yang mengejutkan, upaya itu dilakukan lewat jalur tak terduga: kontrak layanan kebersihan rutin.
Menurut laporan tersebut, tim militer 'Israel' di Gaza menemukan dokumen dan barang bukti yang menunjukkan bahwa Hamas merancang rencana sistematis untuk mengeksploitasi lelang terbuka layanan kebersihan di salah satu fasilitas milik unit tersebut. Temuan itu langsung memicu respons cepat dari militer: kontrak dibekukan, dan protokol keamanan pun diperketat.
Hamas Tahu Lelang Terbuka Militer
Dari hasil operasi lanjutan di Gaza, pasukan 'Israel' berhasil menyita materi intelijen teknis yang menunjukkan bahwa Hamas mengetahui adanya tender daring untuk layanan kebersihan di fasilitas Unit 8200. Mereka melihat ini sebagai peluang untuk mendekati, bahkan mungkin menyusup ke fasilitas militer yang sangat sensitif.
Sebagai dampaknya, militer 'Israel' langsung membatalkan lelang tersebut dan menginstruksikan pembaruan ketat pada semua prosedur yang berkaitan dengan publikasi pengadaan dan informasi militer di ruang publik, termasuk platform online.
Unit 8200: Otak di Balik Perang Siber 'Israel'
Unit 8200 kerap dibandingkan dengan NSA (Badan Keamanan Nasional AS) karena perannya sebagai pusat utama intelijen sinyal Israel. Unit ini dianggap sebagai tulang punggung operasi intelijen Israel, termasuk dalam memantau Iran, Hizbullah, dan pertempuran di Gaza. Meski begitu, unit ini juga menghadapi kritik keras akibat kegagalannya mendeteksi serangan besar Hamas pada 7 Oktober 2023 (Operasi Banjir Al-Aqsa).
Pada Maret 2024 lalu, Israel Hayom juga melaporkan bahwa militer Israel menemukan server bawah tanah dan perangkat komputer milik Hamas di Gaza, yang menunjukkan tingginya kemampuan intelijen kelompok perlawanan itu.
Laporan itu menambahkan bahwa Hamas bahkan berhasil meretas sebagian kamera keamanan sipil di wilayah Israel untuk mengumpulkan data. Ironisnya, hal ini sebenarnya sudah dilaporkan sebelumnya — tapi tak segera ditindak oleh pihak militer.
Krisis Terburuk dalam Sejarah Unit 8200
Menjelang akhir 2023, situs berita AS Axios mengutip pernyataan sejumlah mantan perwira Unit 8200 yang menyebut bahwa unit ini tengah mengalami "krisis terburuk dalam sejarahnya" akibat kegagalan dalam memberikan peringatan dini terkait serangan Hamas.
Tiga mantan perwira senior unit itu mengaku bahwa banyak staf baru yang tidak lagi menguasai keterampilan dasar dalam kerja intelijen klasik, sesuatu yang mutlak diperlukan agar kegagalan seperti 7 Oktober tak terulang.
Sebagai buntutnya, Kepala Unit 8200, Mayor Jenderal Yossi Sariel, mengundurkan diri dari jabatannya pada September 2024 — sebuah langkah yang memperkuat sinyal bahwa krisis kepercayaan dalam tubuh militer Israel semakin dalam.
Unit Kunci Pengumpulan Data 'Israel'
Unit 8200 bertanggung jawab atas pengumpulan intelijen strategis 'Israel', pengembangan teknologi penyadapan, hingga analisis data dan distribusi informasi kepada pihak militer yang membutuhkan. Tak jarang, unit ini juga ikut serta langsung dalam operasi-operasi militer di lapangan, termasuk di zona tempur aktif seperti Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)
