Memuat...

Hamas Sebut Penyerangan Bus GHF Bagian dari Operasi Pembasmian Milisi Pro-'Israel'

Zarah Amala
Jumat, 13 Juni 2025 / 17 Zulhijah 1446 08:30
Hamas Sebut Penyerangan Bus GHF Bagian dari Operasi Pembasmian Milisi Pro-'Israel'
Tindakan keras ini menyusul serangan mematikan pada Rabu malam terhadap sebuah bus yang dioperasikan oleh "Yayasan Kemanusiaan Gaza" (GHF), yang menyebabkan lima orang tewas dan puluhan lainnya terluka. [Getty]

GAZA (Arrahmah.id) - Hamas mengumumkan bahwa mereka telah melancarkan operasi keamanan dan militer besar-besaran di Jalur Gaza, yang menargetkan sebuah milisi yang dipimpin oleh Yasser Abu Shabab. Hamas menuduh Abu Shabab bekerja sama dengan badan intelijen 'Israel', Shin Bet.

Dalam keterangan kepada The New Arab, sumber-sumber keamanan yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa "Arrow Unit" milik sayap bersenjata Hamas, Brigade al-Qassam, telah menewaskan sekitar 25 anggota milisi dan menangkap beberapa lainnya, termasuk sejumlah komandan tingkat tinggi yang diduga terkait dengan 'Israel'. Operasi ini berlangsung selama beberapa hari terakhir.

“Tujuan utama kami adalah membersihkan Gaza dari semua sel yang bekerja sama dengan ['Israel'],” tegas sumber tersebut. “Operasi akan terus dilakukan sampai tujuan ini tercapai.”

Mereka menambahkan bahwa pihaknya tengah menghadapi jaringan yang sangat berbahaya, yang telah menyusup ke infrastruktur sipil dan mencoba mengguncang stabilitas Gaza dari dalam. “Kami tidak bisa membiarkan ancaman seperti ini terus hidup,” ujar mereka.

Aksi penumpasan ini terjadi setelah serangan mematikan pada Rabu malam (11/6/2025) terhadap sebuah bus milik “Gaza Humanitarian Foundation” (GHF), yang menyebabkan lima orang tewas dan puluhan lainnya terluka.

Cuplikan video yang dibagikan di Telegram memperlihatkan jenazah para anggota milisi yang tampaknya dieksekusi di lapangan oleh Hamas, mengingatkan pada eksekusi terhadap para kolaborator selama masa Intifada. Namun, The New Arab belum dapat memverifikasi keaslian video tersebut.

Hamas membantah bahwa mereka menargetkan warga sipil. Mereka menyatakan bahwa para militan menggunakan bus tersebut sambil menyamar sebagai pekerja kemanusiaan.

Pejabat keamanan Gaza juga menuduh bahwa GHF, yang didukung oleh Amerika Serikat, sebenarnya merupakan “kedok untuk aktivitas mata-mata dan koordinasi dengan intelijen 'Israel'.”

Seorang pejabat Hamas yang berbasis di Turki mengatakan kepada The New Arab bahwa milisi Abu Shabab didanai dan diarahkan langsung oleh Shin Bet. Banyak anggotanya, menurut dia, adalah mantan narapidana yang direkrut untuk menjalankan operasi-operasi rahasia.

“Kami tidak akan membiarkan pengalaman di Lebanon Selatan terulang, di mana milisi berubah menjadi alat penjajahan,” tegasnya.

Yasser Abu Shabab sendiri baru-baru ini muncul dalam sebuah video kontroversial, mengklaim bahwa kelompoknya bertujuan untuk “membebaskan wilayah-wilayah dari kekuasaan Hamas.” Ia juga menyebut telah bekerja sama dengan Otoritas Palestina (PA) dan membenarkan operasinya di wilayah yang dikendalikan 'Israel'.

Namun, Otoritas Palestina (PA) langsung membantah klaim tersebut dan menyebut Abu Shabab sebagai “mata-mata 'Israel'.”

Sementara itu, keluarga para anggota milisi secara terbuka menyatakan penolakan terhadap anak-anak mereka dan menyerukan agar mereka diperangi dan dibunuh.

Media 'Israel' Maariv melaporkan bahwa Shin Bet berada di balik pembentukan milisi Abu Shabab. Ini disebut sebagai taktik untuk mengguncang kekuasaan Hamas. Sebagian besar anggota kelompok tersebut berasal dari satu keluarga besar yang memiliki catatan kriminal.

Dalam perkembangan yang memicu ketegangan, i24NEWS mengutip sumber militer 'Israel' yang mengonfirmasi bahwa IDF meluncurkan serangan drone terhadap pasukan Hamas yang tengah mengejar milisi Abu Shabab. Ini menandai aksi militer terbuka pertama 'Israel' dalam mendukung kelompok tersebut.

Peristiwa ini memunculkan kekhawatiran baru di kalangan warga Gaza, yang takut akan potensi kekacauan dan kekerasan internal yang kian memburuk.

Fadi Abdullah, warga Khan Yunis berusia 33 tahun, menyatakan dukungan penuhnya terhadap tindakan Hamas.

“Orang-orang ini adalah pengkhianat yang menjadikan kerja kemanusiaan sebagai kedok,” ujarnya kepada The New Arab. “Di negara mana pun, mereka yang bersekongkol dengan musuh asing pasti dihukum. Mereka bukan hanya menghianati perjuangan, tapi juga membahayakan warga sipil biasa karena memancing pembalasan dari 'Israel'.”

“Dua anggota keluarga saya dibunuh oleh tentara 'Israel' dalam perang, dan saya geram membayangkan ada orang di antara kita yang menjual informasi ke musuh demi uang. Apa yang dilakukan Hamas bukan hanya dibenarkan, tapi juga perlu,” tambahnya.

Sementara itu, Samer Barakat (41), warga Kota Gaza, menyampaikan pandangan yang lebih seimbang. “Saya bukan penggemar Hamas dan sudah lama mengkritik pemerintahan mereka. Tapi dalam kasus ini, saya percaya mereka bertindak demi keamanan nasional.”

“Kita tidak boleh membiarkan kelompok liar mana pun, meski dengan kedok apa pun, bekerja sama dengan penjajah. Itu bisa jadi preseden berbahaya untuk seluruh masyarakat,” ujarnya. “Tragedi sebenarnya adalah kurangnya persatuan dan absennya prospek politik, yang mendorong orang ke jalan yang putus asa dan berbahaya. Milisi muncul karena kekosongan yang ditinggalkan oleh kepemimpinan yang gagal.”

Mariam al-Majdalawi (29), seorang perempuan muda dari Gaza City, menyuarakan keprihatinan serupa. “Krisis ini adalah gejala dari penyakit politik yang lebih dalam,” katanya dari tenda pengungsian di Kota Gaza.

“Selama perpecahan Palestina terus berlanjut dan anak-anak muda tidak melihat masa depan, kelompok-kelompok seperti ini akan terus bermunculan. Kita sedang memproduksi milisi, bukan solusi,” ujarnya.

Ia percaya bahwa kekerasan mungkin bisa mematikan gejala untuk sementara, tapi tidak menyembuhkan akar masalah.

“Kita butuh rekonsiliasi, visi politik yang jelas, dan peluang nyata untuk anak muda. Kalau tidak, siklus kekerasan ini akan terus berulang, dan selalu warga sipil yang jadi korbannya,” tegasnya.

Semua ini terjadi di tengah kondisi kemanusiaan dan politik Gaza yang terus memburuk. Lebih dari dua juta penduduk terjebak dalam blokade panjang oleh Israel, pembangunan yang tersendat, dan proses politik yang mandek.

Perpecahan antara Fatah dan Hamas semakin menghambat upaya menuju persatuan nasional.

Pejabat Hamas menegaskan bahwa mereka tidak akan mengizinkan kelompok bersenjata mana pun beroperasi di Gaza atas nama agenda asing. Namun, banyak yang khawatir bahwa tanpa terobosan politik yang lebih luas, kampanye ini justru akan memperdalam perpecahan sosial.

“Setiap operasi internal, bahkan yang bisa dibenarkan sekalipun, menambah lapisan ketakutan dan perpecahan,” ujar Radi Kamal, warga pengungsi di Deir al-Balah, kepada The New Arab. “Yang kita butuhkan bukan cuma operasi keamanan. Kita butuh penyembuhan nasional.”

Namun, Kamal juga bersiap jika kekerasan kembali pecah. “Kami semua ingin aman, tapi kami juga ingin keadilan. Kalau memang ada yang berkomplot dengan musuh, mereka harus dihentikan. Tapi saya berharap suatu hari nanti, kita tidak perlu senjata untuk menyelesaikan masalah.” (zarahamala/arrahmah.id)