Memuat...

Hamas Tegaskan 'Israel' Harus Terima Kesepakatan Jika Ingin Tahanan Pulang

Zarah Amala
Sabtu, 19 Juli 2025 / 24 Muharam 1447 11:30
Hamas Tegaskan 'Israel' Harus Terima Kesepakatan Jika Ingin Tahanan Pulang
Foto arsip kesepakatan pertukaran tahanan selama gencatan senjata Januari. (Foto: via media sosial, QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Gerakan Perlawanan Palestina, Hamas, menyatakan bahwa 'Israel' tengah mengalami kemunduran besar di Gaza, menyebut konflik yang sedang berlangsung sebagai “cerminan kegagalannya di semua lini.”

Dalam pernyataan yang dikutip oleh Al Mayadeen, Hamas menegaskan bahwa pendudukan 'Israel' menghadapi kerugian besar dalam “pertempuran bersejarah yang akan terus dikenang dalam sejarah konflik, sebagai titik balik strategis yang mengungkap rapuhnya entitas ini serta membongkar kejahatannya berupa pembunuhan, kelaparan, dan genosida.”

Hamas menambahkan bahwa perlawanan, dengan keteguhan dan taktik yang beragam, terus membuat perhitungan 'Israel' kacau. Setiap hari, 'Israel' dikejutkan dengan strategi-strategi baru yang tidak mampu mereka pahami ataupun tangkal. Hal ini terjadi meskipun 'Israel' terus berupaya menundukkan rakyat Gaza melalui pengepungan dan kelaparan.

'Israel' Gunakan Makanan sebagai Senjata

Lebih lanjut, Hamas menyatakan bahwa 'Israel' tidak memiliki pilihan lain selain mencapai kesepakatan dengan pihak perlawanan berdasarkan syarat dan kehendak perlawanan, terutama setelah gagal membebaskan para tawanan dengan kekuatan militer.

Kesepakatan yang ditawarkan Hamas, menurut laporan itu, harus menjamin seluruh hak nasional dan kemanusiaan yang adil, terutama mencabut blokade Gaza dan mengakhiri kebijakan kelaparan massal.

Terkait krisis kemanusiaan, Hamas menegaskan bahwa pengepungan 'Israel' terhadap Gaza merupakan kejahatan yang disengaja terhadap kemanusiaan, di mana makanan digunakan sebagai senjata perang untuk menaklukkan rakyat yang tetap teguh.

Hamas kembali menyerukan kepada masyarakat internasional agar segera bertindak menghentikan “kejahatan keji” ini dan menyelamatkan ratusan ribu warga yang terjebak kelaparan di Gaza.

Korban Jiwa Terus Bertambah

Sejak 'Israel' membatalkan kesepakatan gencatan senjata pada 18 Maret lalu, pasukan pendudukan telah membunuh dan melukai ribuan warga Palestina di seluruh Jalur Gaza melalui serangan udara yang terus berlangsung.

Serangan brutal 'Israel' ini dimulai setelah operasi perlawanan Palestina di wilayah selatan 'Israel' pada 7 Oktober 2023. Sejak saat itu, militer 'Israel' melancarkan perang genosida yang telah menewaskan lebih dari 58.000 warga Palestina, melukai lebih dari 139.000 lainnya, dan meninggalkan lebih dari 14.000 orang dalam status hilang.

Meski banyak negara di dunia secara rutin mengecam genosida yang dilakukan 'Israel', hingga kini belum ada tindakan nyata untuk meminta pertanggungjawaban negara tersebut.

'Israel' saat ini tengah diselidiki oleh Mahkamah Internasional (ICJ) atas tuduhan genosida. Sementara itu, beberapa tokoh 'Israel', termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, telah masuk dalam daftar buronan resmi oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Genosida yang dilakukan 'Israel' sebagian besar mendapat pembelaan, dukungan, dan pendanaan dari Amerika Serikat dan beberapa negara Barat lainnya. (zarahamala/arrahmah.id)