Memuat...

Hilangkan Angka Nol dan Wajah Tokoh Politik, Suriah Resmi Perkenalkan Uang Baru

Hanoum
Selasa, 6 Januari 2026 / 17 Rajab 1447 07:14
Hilangkan Angka Nol dan Wajah Tokoh Politik, Suriah Resmi Perkenalkan Uang Baru
Bank sentral Suriah memperkenalkan mata uang baru. [Foto: Bakr ALkasem / AFP]

DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Presiden Suriah, Ahmad asy Syaraa, resmi meluncurkan uang kertas baru. Mata uang tersebut mulai beredar pada 1 Januari 2026 dengan pecahan 10, 25, 50, 100, 200, dan 500 pound Suriah, setelah pemerintah menghapus dua angka nol dari uang kertas lama. Artinya, setiap 100 pound Suriah dari mata uang lama sekarang akan setara dengan satu pound Suriah, dikutip dari Anadolu Agency (4/1/2026).

Peluncuran mata uang baru ini menandai perubahan besar, tidak hanya dari sisi nilai nominal, tetapi juga dari segi simbol dan makna. Pasalnya, desain uang kertas sepenuhnya diubah dan meninggalkan citra politik masa lalu. Pemerintah Suriah secara resmi menghapus gambar pemimpin yang digulingkan, Bashar al-Assad, serta ayahnya, Hafez al-Assad, sebagai simbol pemutusan hubungan dengan rezim sebelumnya.

Sebagai gantinya, uang kertas baru menampilkan simbol-simbol pertanian yang menjadi ciri khas Suriah, seperti mawar, gandum, zaitun, jeruk, dan murbei. Unsur-unsur ini dipilih untuk merepresentasikan identitas nasional yang lebih inklusif dan berakar pada kehidupan masyarakat, bukan lagi pada pemujaan individu atau kekuasaan politik. Asy Syaraa menyebut mata uang baru ini sebagai penanda babak baru bagi Suriah. “Desain mata uang baru ini merupakan ekspresi dari identitas nasional yang baru dan sebuah pergeseran dari pemujaan terhadap individu,” ujarnya, dikutip dari Euronews.

Penghapusan angka nol pada mata uang Suriah Asy Syaraa menegaskan bahwa penghapusan dua angka nol dari mata uang bukan berarti kondisi ekonomi Suriah otomatis membaik. Kebijakan ini, menurutnya, bertujuan untuk mempermudah transaksi sehari-hari yang selama ini menjadi sangat tidak praktis akibat anjloknya nilai mata uang.

“Mengubah angka nol dan menghilangkan dua angka nol dari mata uang lama ke mata uang baru bukan berarti memperbaiki perekonomian, melainkan membuat transaksi mata uang menjadi lebih mudah,” kata asy Syaraa. Ia menambahkan bahwa pemulihan ekonomi hanya dapat dicapai melalui peningkatan produksi dan penurunan tingkat pengangguran.

Menurutnya, perbaikan sistem perbankan juga menjadi kunci, karena bank berperan sebagai “arteri” perekonomian.

Asy Syaraa juga mengingatkan bahwa masa transisi ini bersifat sensitif dan kompleks. Ia mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terburu-buru menukarkan uang lama. “Pertimbangan terpenting adalah untuk menghindari kepanikan di kalangan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan bahwa lonjakan permintaan penukaran uang secara berlebihan dapat menekan nilai tukar pound Suriah. Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Suriah, Abdul Qader Hosriya, menjelaskan bahwa proses penukaran uang lama ke uang baru akan berlangsung selama 90 hari, dengan kemungkinan diperpanjang jika diperlukan. Ketentuan ini merujuk pada dekrit presiden tahun 2025 yang memberikan kewenangan kepada bank sentral untuk mengatur tenggat waktu dan lokasi penukaran.

Riwayat keruntuhan mata uang Suriah Nilai tukar pound Suriah telah merosot tajam sejak perang saudara pecah pada 2011. Pada Maret 2011, satu dollar AS masih setara sekitar 47 pound Suriah. Nilai tersebut kemudian jatuh menjadi sekitar 515 pound per dolar pada Juli 2017, sebelum terus merosot pada tahun-tahun berikutnya.

Krisis likuiditas di Lebanon pada 2023 memperparah situasi, mendorong nilai tukar hingga 7.500 pound per dollar pada April 2023, lalu mencapai 15.000 pound per dollar di tahun yang sama. Kondisi terburuk terjadi saat serangan oposisi pada 2024 yang menggulingkan rezim al-Assad, ketika nilai tukar anjlok hingga 25.000 pound per dollar AS. Saat ini, nilai tukar pound Suriah berada di kisaran 11.000 per dollar AS. Kondisi ini membuat masyarakat harus membawa uang tunai dalam jumlah besar hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

“Jika seseorang ingin membeli sesuatu yang sederhana, mereka perlu membawa tas untuk bertransaksi, jadi orang-orang memilih dolar,” kata asy Syaraa. Dalam skema redenominasi ini, setiap 100 pound Suriah lama ditukar dengan satu pound baru. Selama masa transisi 90 hari, uang kertas lama dan baru akan tetap beredar bersamaan. Sebelumnya, uang pecahan 2.000 pound menampilkan Bashar al-Assad, sedangkan pecahan 1.000 pound memuat potret Hafez al-Assad.

Dinasti Assad runtuh pada Desember 2024 setelah berkuasa sejak 1963. Kebijakan ekonomi rezim lama, ditambah perang berkepanjangan dan sanksi internasional, telah menghancurkan perekonomian Suriah, meningkatkan pengangguran, serta menghapus banyak subsidi kebutuhan pokok. (hanoum/arrahmah.id)

 

 

SuriahHeadlinemata uang