Memuat...

Ini Detail Proposal Gencatan Senjata Gaza yang Dikampanyekan Trump

Zarah Amala
Kamis, 3 Juli 2025 / 8 Muharam 1447 09:00
Ini Detail Proposal Gencatan Senjata Gaza yang Dikampanyekan Trump
Jika gencatan senjata sementara disetujui, para pejabat mengatakan rencana "hari berikutnya" AS dapat menjadi dasar negosiasi tidak langsung atas resolusi jangka panjang [Getty]

GAZA (Arrahmah.id) - Setelah berbulan-bulan negosiasi tertutup dan tekanan internasional yang terus meningkat, Qatar secara resmi mengajukan proposal gencatan senjata terbaru selama 60 hari antara Hamas dan 'Israel'. Proposal ini mendapat dukungan langsung dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang kini mulai menunjukkan tekanan publik terhadap 'Israel' untuk menghentikan serangan brutal di Gaza dan membuka jalan bagi pembicaraan damai jangka panjang.

Proposal tersebut disampaikan pada Selasa (1/7/2025), bertepatan dengan kunjungan Menteri Urusan Strategis 'Israel' Ron Dermer ke Washington untuk melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Wakil Presiden J.D. Vance.

Isi Kesepakatan yang Diusulkan

Mengutip sejumlah sumber yang dekat dengan proses perundingan, berikut poin-poin utama dalam rancangan kesepakatan tersebut:

  • Gencatan senjata 60 hari antara Hamas dan 'Israel'.

  • 8 tawanan 'Israel' yang masih hidup akan dibebaskan pada hari pertama gencatan senjata, dan 2 lainnya pada hari ke-50.

  • Jenazah 18 tawanan 'Israel' akan dikembalikan dalam tiga gelombang.

  • 'Israel' akan menarik pasukan dari koridor Morag di selatan Gaza.

  • Bantuan kemanusiaan ke Gaza akan ditingkatkan secara signifikan.

  • Pembebasan tahanan Palestina, meski jumlah pastinya belum diumumkan.

  • Perundingan selama masa gencatan akan diarahkan untuk mencapai penghentian permanen perang dan membahas rencana pemerintahan Gaza pascaperang.

Witkoff disebut aktif berkomunikasi dengan mediator Qatar dan Mesir. Trump sendiri mengatakan bahwa ia akan “sangat tegas” terhadap Netanyahu terkait pentingnya mengakhiri perang. "Situasinya tidak akan menjadi lebih baik. Justru akan makin buruk," ujar Trump kepada Axios.

Sumber-sumber 'Israel' mengindikasikan bahwa rencana pascaperang akan mencakup penghapusan kekuasaan Hamas, pembubaran sayap militernya, serta pengasingan para komandannya. Gaza ke depan direncanakan dipimpin oleh tokoh-tokoh lokal Palestina yang tidak berafiliasi dengan Hamas maupun Otoritas Palestina (PA), di bawah pengawasan negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, UEA, dan Arab Saudi.

Namun, sumber 'Israel' juga menyebutkan bahwa tidak ada jaminan bahwa gencatan ini akan menjadi akhir perang. "Hamas menginginkan jaminan perang akan berakhir, tapi mereka tidak akan mendapatkannya," ujar seorang pejabat 'Israel'.

Bagaimana Respon Hamas?

Sumber-sumber dekat Hamas menyatakan bahwa kelompok tersebut masih mengkaji proposal baru ini. Harapan hati-hati muncul di dalam Hamas bahwa proposal bisa diterima jika terdapat komitmen eksplisit untuk menghentikan perang secara permanen, bukan sekadar jeda.

Sementara itu, 'Israel' terus melanjutkan operasi militernya di Gaza, termasuk mengeluarkan perintah evakuasi baru di Gaza City. Seorang pejabat senior Israel memperingatkan, “Kami akan membuat Gaza City dan kamp-kamp tengah seperti Rafah, semuanya menjadi debu.”

Langkah-langkah ini dipandang sebagai tekanan tambahan terhadap Hamas untuk menerima kesepakatan.

Kunjungan Dermer ke Washington juga dimaksudkan untuk mempersiapkan pertemuan resmi antara Netanyahu dan Trump di Gedung Putih pada Senin depan. Jika gencatan senjata sementara berhasil disepakati, rencana pascaperang AS dapat menjadi dasar pembicaraan tidak langsung menuju resolusi permanen konflik. (zarahamala/arrahmah.id)