Memuat...

Iran Beri ‘Pelajaran Telak’, Bloomberg Nilai Trump Gagal dan Tak Pernah Belajar

Samir Musa
Sabtu, 11 April 2026 / 23 Syawal 1447 07:14
Iran Beri ‘Pelajaran Telak’, Bloomberg Nilai Trump Gagal dan Tak Pernah Belajar
Sebagian pihak mempertanyakan apakah pernyataan Trump mengenai perang Iran hanyalah sekadar tipu daya belaka (European Press Agency).

(Arrahmah.id) - Dalam sorotan tajam terhadap dampak perang Amerika-“Israel” terhadap Iran, seorang penulis senior Bloomberg melontarkan kritik pedas terhadap kepemimpinan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai gagal secara strategis dan politik.

Dalam artikelnya (9/4/2026), Timothy L. O’Brien, editor eksekutif untuk opini dan analisis di Bloomberg, menggambarkan perang yang dimulai pada 28 Februari lalu bukan sekadar operasi militer, melainkan kegagalan besar dalam kepemimpinan yang konsekuensinya bisa berlangsung bertahun-tahun.

Timothy L. O’Brien

Petualangan Mahal dan Berisiko

Menurut analisis tersebut, perang ini telah menguras puluhan miliar dolar dari pajak rakyat Amerika, dengan estimasi total biaya yang dapat menembus 100 miliar dolar. Selain itu, konflik tersebut juga menimbulkan korban jiwa dari pihak tentara Amerika serta ribuan warga Iran.

Dampaknya tidak berhenti pada kerugian materi. Sekitar 22 juta orang di kawasan Timur Tengah turut terancam mata pencahariannya, sementara lonjakan harga energi memicu meningkatnya inflasi global.

Kerusakan besar yang ditimbulkan oleh serangan “Israel” terhadap Iran (Reuters).

Retorika “Menghapus Peradaban” Dikritik Tajam

O’Brien juga menyoroti pernyataan kontroversial Trump sebelum gencatan senjata sementara diumumkan, di mana ia mengancam akan “menghapus sebuah peradaban” dan mengembalikan Iran ke “zaman batu”.

Menurutnya, retorika tersebut hanyalah gertakan kosong yang berhasil dibaca dengan cermat oleh Teheran.

“Ancaman yang tidak realistis justru akan berbalik menghantam pihak yang mengucapkannya ketika diuji,” tulisnya.

Ia menilai Iran berhasil mengungkap kelemahan strategi Trump, sehingga kini presiden AS itu hanya memiliki dua pilihan: menyelamatkan muka melalui gencatan senjata atau melanjutkan perang yang kecil kemungkinan mencapai tujuan strategis.

Anggota DPR Marjorie Taylor Greene menyebut ancaman Donald Trump terhadap Iran sebagai kejahatan dan kegilaan (Associated Press).

“Perpaduan Berbahaya antara Kekuasaan dan Ketidaksiapan”

Dalam kritik yang lebih tajam, O’Brien menggambarkan Trump sebagai sosok yang kurang memiliki kapasitas dasar dalam memimpin.

“Seseorang yang minim pengalaman, lanjut usia, dan ingin tampil sebagai orang kuat, tetapi memperlakukan perang seperti acara reality show, adalah resep bencana,” tulisnya.

Artikel tersebut juga mengungkap bahwa keputusan meredakan eskalasi bukan berasal dari kesadaran Trump sendiri, melainkan akibat tekanan dari pihak-pihak di lingkaran dekatnya yang dianggap lebih rasional.

Bahkan, kritik keras datang dari tokoh Partai Republik sendiri, termasuk Marjorie Taylor Greene, yang menyerukan penggunaan Amandemen ke-25 terhadap Trump. Ia menyebut ancaman menghancurkan peradaban sebagai “kejahatan dan kegilaan.”

Gagal Memahami Iran

O’Brien menegaskan adanya kegagalan mendasar dalam memahami karakter Iran. Ia menyebut bahwa sistem Iran siap menanggung penderitaan besar demi mempertahankan keyakinannya, sementara Trump dinilai hanya berfokus pada citra diri, kekayaan, dan popularitas.

Perbandingan dengan Pemimpin Masa Lalu

Dalam analisisnya, O’Brien membandingkan Trump dengan Presiden AS terdahulu seperti John F. Kennedy, yang dinilai memiliki kombinasi penting berupa kebijaksanaan, pengendalian diri, pengalaman militer, dan visi strategis, terutama pada masa Cold War.

Sebaliknya, Trump disebut sebagai pemimpin berpandangan sempit yang rekam jejak bisnisnya juga dipenuhi kegagalan dan kebangkrutan.

“Tidak Bisa Belajar”

O’Brien menutup tulisannya dengan kesimpulan keras: gencatan senjata saat ini hanyalah “istirahat sementara bagi seorang murid yang belum lulus dalam sekolah politik internasional.”

Ia menegaskan bahwa Trump “pada dasarnya tidak mampu belajar”, dan bahwa berbagai kelemahannya telah terdokumentasi selama puluhan tahun.

Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa kondisi ini bisa menjadi semakin berbahaya jika Trump berada dalam situasi tanpa pilihan, yang dapat mendorongnya mengambil langkah-langkah ekstrem.

(Samirmusa/arrahmah.id)