(Arrahmah.id) - Ulama Palestina, Abu Qatada Al-Filastini, menegaskan bahwa para pejuang di Suriah saat ini telah memasuki fase baru yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Untuk pertama kalinya, mereka tidak hanya berjuang di medan peperangan, tetapi juga memikul tanggung jawab besar dalam mengelola sebuah negara.
Dalam unggahan terbarunya di platform X (Twitter) melalui akun @ShAbiQatadah, Abu Qatada menyerukan agar umat Islam menyikapi kondisi tersebut dengan kesabaran dan dukungan, bukan dengan sikap sinis atau upaya mencari-cari kesalahan.
Kekosongan pengalaman pemerintahan Islam
Ia menjelaskan bahwa panjangnya masa ketiadaan pemerintahan Islam telah membuat umat kehilangan pengalaman praktis dalam mengelola negara. Kondisi ini, menurutnya, memunculkan banyak gambaran ideal tentang “negara Islam” dalam benak masing-masing individu.
Ketika realitas tidak sesuai dengan bayangan tersebut, yang muncul bukan pemahaman, melainkan penghakiman. Akibatnya, perbedaan pandangan berubah menjadi permusuhan, bahkan sampai pada saling mengkafirkan.
Kritik terhadap budaya saling menjatuhkan
Abu Qatada juga menyoroti budaya sebagian pihak yang gemar memotong ucapan dan mengambil sebagian peristiwa untuk dijadikan dasar tuduhan besar, teori konspirasi, hingga label pengkhianatan atau mata-mata.
Menurutnya, hal ini justru membuat gerakan melemah dari dalam, bukan karena serangan musuh, tetapi karena perpecahan internal yang terus menggerogoti.
Sikap terhadap kondisi Suriah
Dalam konteks Suriah, ia menegaskan bahwa perjuangan yang terjadi memiliki dasar yang sah, dan kemenangan yang diraih merupakan bagian dari ketentuan Allah. Para pemimpin saat ini, katanya, sedang berusaha menjalankan amanah dengan sebaik mungkin di tengah tantangan besar.
Namun ia menegaskan bahwa mereka tetap manusia: kadang benar dan kadang salah.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk menyikapi mereka sebagaimana orang yang berijtihad: jika benar didukung, jika salah diluruskan dengan cara yang baik, bukan dengan celaan.
Seruan kesabaran dan persatuan
Ia juga mempertanyakan sikap sebagian pihak yang mudah berburuk sangka, padahal menurutnya tidak ada keadaan yang lebih buruk dibanding masa sebelumnya di bawah rezim Bashar Assad.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah kesabaran,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa Damaskus hari ini bukan milik satu kelompok, tetapi bagian dari umat Islam secara keseluruhan, dan membutuhkan kontribusi ulama serta semua pihak yang memiliki niat baik.
Penutup
Abu Qatada menutup pesannya dengan peringatan bahwa jika fase besar ini tidak disikapi dengan akal sehat, kasih sayang, dan loyalitas kepada Allah, maka yang terjadi bukan kebangkitan, melainkan pengulangan konflik dari dalam.
“Bersabarlah, lihat dengan kacamata terbaik, dan jika ada kesalahan, luruskan dengan cinta, bukan permusuhan,” demikian pesannya.
(Samirmusa/arrahmah.id)
