(Arrahmah.id) – Gelombang serangan besar-besaran yang dilancarkan Iran selama 41 hari terakhir telah mengguncang kawasan Timur Tengah, dengan total lebih dari 6.400 rudal dan drone menghantam tujuh negara Arab, mayoritas di kawasan Teluk.
Berdasarkan laporan statistik yang dirilis kantor berita Anadolu Agency pada 10 April 2026, serangan tersebut berlangsung sejak pecahnya perang pada 28 Februari hingga Kamis (9/4), termasuk pelanggaran mencolok selama dua hari pertama masa gencatan senjata.
Data yang dihimpun dari pernyataan resmi pemerintah negara-negara Arab menunjukkan bahwa total serangan Iran mencapai sedikitnya 6.413 rudal dan pesawat nirawak, ditambah serangan udara menggunakan dua jet tempur jenis Sukhoi-24.
Menariknya, serangan tetap berlangsung meskipun gencatan senjata mulai diberlakukan. Pada hari pertama, tercatat 141 rudal dan drone diluncurkan ke sejumlah negara, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Bahrain.
Sementara pada hari kedua, sedikitnya 10 drone kembali menyerang Bahrain dan Kuwait, menandakan ketegangan belum mereda meski telah tercapai kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran melalui mediasi Pakistan.
Awal Eskalasi dan Dalih Iran
Iran menyatakan bahwa serangan ini merupakan respons atas apa yang disebutnya sebagai "agresi Amerika dan Israel" terhadap wilayahnya. Sejak itu, operasi militer berlangsung dengan intensitas yang bervariasi hingga diumumkannya gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April 2026.
Meski demikian, Teheran menegaskan bahwa target utamanya adalah pangkalan dan kepentingan Amerika di kawasan, bukan negara-negara Arab secara langsung. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya, dengan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur sipil tak terhindarkan.
Sejumlah fasilitas vital seperti bandara, pelabuhan, dan instalasi energi dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.
UEA Jadi Target Terbesar
Uni Emirat Arab tercatat sebagai negara yang paling banyak menjadi sasaran serangan. Kementerian Pertahanan UEA mengungkapkan bahwa pihaknya berhasil mencegat 537 rudal balistik, 26 rudal jelajah, dan 2.256 drone.
Meski intensitas serangan tinggi, korban jiwa relatif terbatas dengan 13 orang tewas dan 224 lainnya mengalami luka-luka dari berbagai kewarganegaraan.
Kuwait dan Saudi di Posisi Berikutnya
Kuwait menjadi negara kedua yang paling terdampak, dengan total serangan mencapai 354 rudal balistik, 15 rudal jelajah, dan 845 drone yang menyasar fasilitas vital.
Pemerintah Kuwait bahkan secara terbuka menuding Iran dan kelompok proksinya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Di Arab Saudi, sistem pertahanan udara dilaporkan berhasil menggagalkan sedikitnya 104 rudal dan 916 drone sejak awal konflik.
Bahrain, Qatar, dan Yordania Tak Luput
Bahrain mengumumkan telah mencegat 194 rudal dan 515 drone, sementara Qatar menghadapi sedikitnya 227 rudal dan 111 drone, termasuk serangan langsung oleh dua jet tempur Sukhoi.
Adapun Yordania mencatat sekitar 291 serangan rudal dan drone sejak awal konflik, dengan frekuensi serangan yang meningkat secara berkala setiap pekan.
Oman Paling Minim Terdampak
Di antara tujuh negara tersebut, Oman menjadi wilayah yang paling sedikit terdampak. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 19 drone yang dilaporkan memasuki wilayahnya selama periode konflik.
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan diumumkan pada 8 April 2026, hanya beberapa jam sebelum tenggat ultimatum yang diberikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Namun pelanggaran yang terjadi sejak hari pertama menunjukkan bahwa stabilitas kawasan masih jauh dari kata aman. Ancaman eskalasi besar tetap membayangi jika kesepakatan ini gagal dipertahankan.
(Samirmusa/arrahmah.id)
