RAFAH – Pemerintah 'Israel' secara resmi membuka kembali sebagian perlintasan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir pada Ahad (1/2/2026). Pembukaan ini dilakukan setelah berbulan-bulan desakan dari organisasi kemanusiaan internasional, meskipun akses saat ini masih dibatasi hanya untuk pergerakan orang dan belum mencakup pengiriman barang atau bantuan logistik secara massal.
COGAT, badan kementerian pertahanan 'Israel' yang mengoordinasikan urusan sipil Palestina, menyatakan bahwa pembukaan ini merupakan "fase uji coba awal" yang dikoordinasikan dengan Uni Eropa. Fokus utama saat ini adalah memfasilitasi perjalanan warga, termasuk sekitar 200 pasien kritis yang telah lama menunggu izin untuk keluar dari Gaza guna mendapatkan perawatan medis yang mendesak di luar negeri.
Seorang pejabat Palestina melaporkan bahwa sekitar 40 personel yang berafiliasi dengan Otoritas Palestina (PA) telah tiba di sisi Mesir untuk bersiap masuk ke Gaza dan memulai tugas administratif mereka di perbatasan.
Meskipun perlintasan mulai dibuka, situasi keamanan di Jalur Gaza tetap mencekam. Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa lebih dari 30 orang tewas dalam serangkaian serangan 'Israel' pada Sabtu (31/1), menunjukkan bahwa gencatan senjata masih sangat rapuh.
Pembukaan terbatas ini dipandang sebagai langkah kecil dalam menanggapi krisis kemanusiaan yang parah, namun para aktivis kemanusiaan menekankan bahwa tanpa akses penuh bagi barang dan bantuan medis, kondisi di dalam wilayah kantong tersebut akan tetap berada pada level katastropik. (zarahamala/arrahmah.id)
