TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Ribuan warga Arab-Israel bersama dengan sejumlah warga Yahudi menggelar demo besar di Tel Aviv menuntut pemerintah 'Israel' bertindak tegas terhadap gelombang kejahatan dan kekerasan di komunitas Arab. Demonstran meminta keamanan yang lebih baik dan pengakuan terhadap kesenjangan perlakuan oleh aparat keamanan.
Dilansir All Israel News (1/2/2026), puluhan ribu orang memenuhi Habima Square dan jalan-jalan utama di Tel Aviv dalam sebuah demonstrasi besar menyoroti meningkatnya kekerasan di masyarakat Arab-Israel yang telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah baru-baru ini.
Aksi ini diperkirakan dihadiri sekitar 30.000–40.000 peserta, menandai salah satu protes terbesar terkait isu sosial yang melibatkan warga Arab dan Yahudi bersama di negara itu.
Unjuk rasa ini dipicu oleh angka pembunuhan dan penembakan yang tinggi di komunitas Arab-Israel, di mana warga setempat dan aktivis menyatakan bahwa polisi dan pemerintah tidak cukup responsif terhadap serangkaian kasus kekerasan dan kejahatan terorganisir yang sedang berlangsung.
Demonstran membawa spanduk seperti “Stop the war of crime” dan “We are with you, you are not alone,” menuntut perlindungan yang setara di seluruh negara.
Aksi di Tel Aviv dilaporkan merupakan hasil koordinasi oleh High Follow-Up Committee, badan yang mewakili warga Arab-Israel, yang berupaya menjangkau publik luas dan membangun solidaritas lintas komunitas terhadap dampak kekerasan yang terjadi.
Banyak peserta tampak mengenakan pakaian tradisional Arab, sementara beberapa kelompok Yahudi yang selama ini aktif dalam protes antikekerasan juga hadir sebagai bentuk dukungan.
Demonstrasi besar ini mencerminkan ketidakpuasan yang semakin mendalam di kalangan warga Arab-Israel mengenai masalah perlindungan publik, penegakan hukum, dan persamaan hak, serta kritik terhadap pendekatan pemerintah yang dinilai kurang efektif dalam menjamin keamanan bagi seluruh warga negara.
Sementara itu, insiden kekerasan yang menyebar di berbagai komunitas Arab-Israel—termasuk pembunuhan akibat perseteruan antar-keluarga atau geng kriminal—telah memicu seruan luas agar aparat meningkatkan respons di daerah-daerah yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Unjuk rasa kali ini dipandang sebagai salah satu momen penting dalam upaya menyoroti ketimpangan dan memperjuangkan perubahan kebijakan publik di 'Israel'.
Sumber berita internasional termasuk The Jerusalem Post dan laporan independen lainnya mencatat bahwa protes ini bukan hanya sekadar tuntutan keamanan, tetapi juga simbol persatuan sementara antara komunitas Arab dan kelompok Yahudi tertentu, meskipun masih ada ketegangan sosial di baliknya. (hanoum/arrahmah.id)
