TEHERAN (Arrahmah.id) - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memberikan peringatan keras pada Ahad (1/2/2026) bahwa serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran akan memicu "perang regional". Pernyataan ini muncul sebagai respons atas pengiriman armada militer besar-besaran Washington ke wilayah Teluk baru-baru ini.
Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer kecuali Iran menyetujui kesepakatan nuklir baru dan menghentikan tindakan keras terhadap pengunjuk rasa di dalam negeri.
Menanggapi pernyataan Trump mengenai pengiriman "armada besar" (massive armada) ke wilayah tersebut, Khamenei menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan gentar. Saat ini, Angkatan Laut AS dilaporkan telah menyiagakan enam kapal perusak, satu kapal induk, dan tiga kapal tempur pesisir di Timur Tengah.
"Rakyat Iran tidak akan takut dengan hal-hal seperti itu, bangsa ini tidak akan goyah oleh ancaman-ancaman ini," ujar Khamenei melalui media pemerintah. Ia menambahkan bahwa meski Iran tidak berniat memulai serangan, mereka akan memberikan "pukulan kuat" kepada siapa pun yang melakukan agresi.
Dampak Domestik dan Korban Jiwa
Peningkatan ketegangan militer ini terjadi di tengah kondisi dalam negeri Iran yang tidak stabil. Warga di beberapa wilayah dilaporkan mulai menyegel jendela serta menimbun bahan makanan dan air sebagai persiapan menghadapi kemungkinan serangan udara.
Selain itu, laporan mengenai jumlah korban tewas akibat tindakan keras aparat terhadap demonstran sejak Desember 2025 terus simpang siur. Data resmi menyebutkan 3.117 jiwa, sementara data aktivis (HRANA) menujukkan 6.713 jiwa.
Khamenei menyebut aksi protes tersebut sebagai upaya "kudeta" dan "hasutan" yang bertujuan menyerang pusat-pusat pemerintahan. Di sisi lain, Middle East Eye melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan serangan presisi terhadap pejabat tinggi dan komandan Iran yang dianggap bertanggung jawab atas kematian para pengunjuk rasa.
Konflik ini juga merembet ke ranah diplomatik internasional. Uni Eropa telah memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke dalam daftar organisasi teroris sebagai respons atas tindakan keras terhadap demonstran. Iran membalas langkah tersebut pada Minggu dengan menetapkan militer negara-negara Eropa sebagai organisasi teroris.
Meski retorika perang menguat, kedua belah pihak mengisyaratkan bahwa jalur dialog belum sepenuhnya tertutup. Ali Larijani, Kepala Dewan Keamanan Nasional Agung Iran, menyatakan bahwa "pengaturan struktural untuk negosiasi sedang berjalan" di balik keriuhan media. Presiden Trump mengonfirmasi bahwa dialog memang sedang berlangsung, namun ia tetap mempertahankan ancaman militernya dengan mengatakan, "Kita lihat saja apa yang akan terjadi."
Teheran menyatakan siap melakukan negosiasi yang "adil", asalkan tidak membatasi kemampuan pertahanan nasional mereka. (zarahamala/arrahmah.id)//
