GAZA (Arrahmah.id) - 'Israel' telah melanggar kesepakatan gencatan senjata Gaza lebih dari 490 kali sejak ditandatangani pada 10 Oktober, dengan pelanggaran terbaru terjadi pada Sabtu (22/11/2025), dalam serangan yang menewaskan 24 warga Palestina di seluruh wilayah Gaza yang porak-poranda akibat perang.
Pada Sabtu (22/11), pasukan 'Israel' melancarkan serangan udara di berbagai wilayah Gaza, menewaskan sedikitnya 24 warga Palestina, termasuk anak-anak, serta melukai 87 orang lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Sumber-sumber lokal mengatakan serangan pertama menghantam sebuah mobil di Gaza City bagian utara, disusul serangan lain di Deir al-Balah di Gaza tengah serta kamp pengungsi Nuseirat.
Abdelrhman Shabaan, yang berada di dekat lokasi saat serangan mobil terjadi, mengatakan kepada Quds News Network, “Ledakannya sangat kuat. Tidak ada ketenangan di Gaza, tidak ada gencatan senjata.”
Ia menambahkan, “Kami takut keluar rumah karena pelanggaran 'Israel' yang terus berlangsung. Ini hanyalah gencatan senjata di atas kertas. Di mana para mediator?”
Berapa Kali 'Israel' Melanggar Gencatan Senjata?
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza pada Sabtu (22/11), 'Israel' telah melanggar gencatan senjata yang ditengahi AS sebanyak 497 kali sejak diberlakukan pada 10 Oktober.
Pelanggaran-pelanggaran tersebut telah menewaskan sekitar 342 warga sipil, kebanyakan anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia.
Dalam pernyataannya, kantor tersebut mengatakan, “Kami mengecam sekeras-kerasnya pelanggaran serius dan sistematis yang terus dilakukan oleh otoritas pendudukan 'Israel' terhadap perjanjian gencatan senjata.”
Pelanggaran tersebut mencakup penembakan langsung terhadap warga sipil, pengeboman dan penargetan yang disengaja, serta penangkapan sejumlah warga. Semua ini menunjukkan bahwa 'Israel' tetap melanjutkan agresi meski perang dinyatakan telah berakhir.
“Pelanggaran-pelanggaran ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional dan protokol kemanusiaan yang melekat dalam perjanjian,” tambah pernyataan itu.
“Di antara pelanggaran tersebut, 27 terjadi hari ini, Sabtu 0, yang menyebabkan 24 syahid dan 87 luka-luka.”
Kantor Media Gaza juga mencatat bahwa 35 warga sipil diculik oleh pasukan 'Israel' dalam penggerebekan dan serangan darat; terdokumentasi 142 insiden penembakan langsung terhadap warga, rumah, lingkungan permukiman, serta tenda-tenda keluarga pengungsi; 21 kali serbuan kendaraan militer ke area perumahan dan pertanian di luar “garis kuning”; 228 serangan darat, udara, dan artileri; serta 100 penghancuran rumah dan bangunan sipil.
Apa yang Kita Ketahui?
Kantor Perdana Menteri 'Israel', Benjamin Netanyahu, mengklaim pelanggaran gencatan senjata pada Sabtu (22/11) terjadi setelah seorang anggota Hamas menyerang tentara 'Israel' di Rafah, wilayah yang saat ini dikuasai 'Israel' di Gaza selatan.
Namun Hamas mengatakan 'Israel' “melanggar gencatan senjata dengan dalih yang dibuat-buat” dan menyerukan kepada mediator, AS, Mesir, dan Qatar, untuk segera turun tangan.
Hamas juga menyatakan bahwa Israel telah mendorong pasukan mereka bergerak ke arah barat, melampaui “garis kuning” yang menjadi posisi pasukan Israel di Gaza, dan mengubah batas yang ditetapkan dalam kesepakatan.
“Kami menyeru para mediator untuk segera turun tangan dan menekan 'Israel' agar menghentikan pelanggaran-pelanggaran ini,” kata Hamas dalam pernyataannya.
“Kami juga menuntut pemerintah AS untuk memenuhi komitmennya dan memaksa ['Israel'] menjalankan kewajibannya, serta menghadapi upayanya untuk merusak gencatan senjata di Gaza.”
Izzat al-Risheq, anggota biro politik Hamas, menambahkan dalam pernyataannya:
“Israel menciptakan alasan-alasan palsu untuk menghindari perjanjian dan kembali ke perang pemusnahan, padahal merekalah yang melanggar kesepakatan setiap hari dan secara sistematis.” (zarahamala/arrahmah.id)
