Memuat...

“Israel” Murka: Netanyahu Tolak Keras Peran Turki dalam Rencana Pasca-Perang Gaza

Samir Musa
Selasa, 21 Oktober 2025 / 30 Rabiulakhir 1447 20:01
“Israel” Murka: Netanyahu Tolak Keras Peran Turki dalam Rencana Pasca-Perang Gaza
Netanyahu (kiri) saat konferensi pers sebelumnya di Gedung Putih (Reuters).

WASHINGTON (Arrahmah.id)— Di tengah laporan mengenai intensifnya pembicaraan antara Amerika Serikat dan sejumlah negara untuk membentuk pasukan internasional di Gaza pasca gencatan senjata, Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu menyampaikan pesan tegas kepada Washington: tidak akan menerima keterlibatan Turki dalam urusan Gaza, dalam bentuk apa pun.

Menurut laporan harian Maariv pada Selasa (21/10), Netanyahu menyampaikan penolakan tersebut dalam serangkaian pertemuan dengan pejabat tinggi Amerika yang ditugaskan menangani fase kedua dari rencana Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.

“Garis Merah”

Mengutip sumber diplomatik, Maariv menulis bahwa Netanyahu menegaskan kepada utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, dan penasihat senior Gedung Putih sekaligus menantu Trump, Jared Kushner, bahwa “setiap upaya untuk melibatkan Turki dalam urusan Gaza adalah pelanggaran terhadap garis merah ‘Israel’.”

Netanyahu, kata sumber tersebut, menuduh Turki di bawah pimpinan Presiden Recep Tayyip Erdoğan sebagai “pihak yang bermusuhan di kawasan,” serta mengklaim bahwa Ankara telah memberikan dukungan politik dan finansial selama bertahun-tahun kepada gerakan Hamas. Karena itu, “Israel” menolak keras segala bentuk keterlibatan Turki, bahkan dalam kegiatan bersifat sipil atau kemanusiaan.

Penolakan tersebut muncul di saat Washington tengah berusaha membangun kesepakatan pascaperang dengan sejumlah negara Arab dan Barat, termasuk rencana pembentukan pasukan multinasional sementara untuk mengawasi keamanan dan pengelolaan perbatasan Gaza. Namun, posisi Netanyahu yang keras terhadap Turki disebut menambah “rintangan politik baru” bagi upaya AS memperluas basis dukungan internasional bagi rencana tersebut.

Pertemuan dengan JD Vance

Netanyahu dijadwalkan bertemu malam ini dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, yang sedang melakukan kunjungan dua hari ke “Israel” dalam rangka memasarkan rencana Washington terkait Gaza.

Sejumlah analis di “Israel” memperkirakan Vance akan menegaskan hak “Israel” untuk menanggapi pelanggaran apa pun terhadap kesepakatan gencatan senjata oleh Hamas, sambil berusaha mendorong Netanyahu untuk menurunkan ketegangan terhadap Turki atau setidaknya menahan diri dari menyatakan penolakan secara terbuka.

Namun, pejabat di kantor Netanyahu mengatakan kepada Maariv bahwa perdana menteri tetap berpegang pada sikapnya dan akan menyampaikan secara terang-terangan kepada Vance bahwa “Israel” “tidak akan menerima keberadaan Turki di Gaza dalam bentuk apa pun—baik di bawah bendera pasukan internasional maupun dalam proyek rekonstruksi.”

Kekhawatiran akan Pengaruh Turki

Menurut pengamat politik di “Israel”, sikap keras Netanyahu mencerminkan kekhawatiran bahwa Turki dapat muncul sebagai kekuatan dominan di Gaza setelah perang berakhir, sehingga mengancam pengaruh “Israel” dan menggagalkan tujuan kampanye militernya yang telah berlangsung selama dua tahun.

Sebelumnya, harian Yedioth Ahronoth mengutip analisis para peneliti dari Institute for National Security Studies (INSS) yang memperingatkan bahwa peran Erdoğan di Gaza setelah perang dapat berubah menjadi “mimpi buruk bagi Israel.”

Laporan itu menambahkan bahwa sejak awal agresi di Gaza, “Israel” sudah menolak tegas setiap upaya melibatkan Turki dalam negosiasi atau rencana pascaperang—terlebih setelah Erdoğan menyebut Netanyahu sebagai “Hitler masa kini” dan menuduh “Israel” melakukan pembantaian genosida terhadap rakyat Palestina.

(Samirmusa/arrahmah.id)