Memuat...

'Israel' Terus Bom Khan Yunis dan Distrik Al-Zaytun, Langgar Zona Penempatan Gencatan Senjata

Zarah Amala
Sabtu, 14 Februari 2026 / 27 Syakban 1447 11:00
'Israel' Terus Bom Khan Yunis dan Distrik Al-Zaytun, Langgar Zona Penempatan Gencatan Senjata
Tenda-tenda sementara untuk keluarga-keluarga Palestina yang mengungsi di tengah reruntuhan bangunan yang hancur akibat agresi 'Israel' di Kota Gaza (European Pressphoto Agency)

GAZA (Arrahmah.id) - Militer 'Israel' terus melanggar kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada 10 Oktober 2025 dengan meningkatkan eskalasi serangan udara, artileri, dan laut di berbagai wilayah Jalur Gaza. Laporan terbaru pada Jumat (13/2/2026) menunjukkan militer 'Israel' melakukan peledakan bangunan pemukiman dan serangan pesawat nirawak (drone) yang menyasar rumah warga sipil.

Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa jet tempur dan artileri 'Israel' membombardir target di area penempatan mereka di timur Khan Yunis, Gaza selatan. Selain serangan udara, militer 'Israel' juga melakukan penghancuran sistematis terhadap bangunan tempat tinggal di wilayah tersebut.

Di Kota Gaza, pesawat nirawak 'Israel' menjatuhkan bom peledak ke atap rumah-rumah warga di sekitar Klub Al-Zaytun, wilayah yang menurut kesepakatan berada di luar zona penempatan militer 'Israel'. Sementara itu, angkatan laut 'Israel' melepaskan tembakan acak ke arah pantai Kota Gaza, meski tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden laut tersebut.

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku, 'Israel' telah melakukan ratusan pelanggaran yang mengakibatkan 591 warga Palestina gugur dan 1.578 lainnya luka-luka. Secara akumulatif, total korban jiwa sejak awal agresi pada 7 Oktober 2023 kini mencapai 72.049 jiwa dan 171.691 luka-luka.

Otoritas medis memperingatkan bahwa banyak korban masih tertimbun di bawah reruntuhan dan di jalan-jalan karena tim penyelamat tidak mampu menjangkau mereka akibat kehancuran infrastruktur yang mencapai 90%.

Di tengah krisis kemanusiaan, pergerakan warga melalui gerbang perbatasan Rafah masih sangat terbatas. Pada hari Kamis, hanya 65 warga Palestina (termasuk 28 pasien dan 37 pendamping) yang diizinkan meninggalkan Gaza untuk pengobatan, sementara 43 orang kembali ke Gaza.

Kantor Media Pemerintah di Gaza mengungkapkan bahwa 'Israel' hanya memenuhi sekitar 27% dari komitmen kuota pelintas sejak perbatasan dibuka secara terbatas pada 2 Februari lalu. Dari 1.800 orang yang seharusnya melintas bolak-balik, hanya 488 orang yang berhasil melewati prosedur pemeriksaan 'Israel' yang sangat ketat.

Data menunjukkan situasi medis yang sangat kritis di Gaza, 22.000 pasien dan korban luka sangat membutuhkan evakuasi medis ke luar negeri, 80.000 warga Palestina di luar negeri telah mendaftarkan diri untuk kembali ke Gaza, sebuah angka yang menunjukkan penolakan warga terhadap upaya pengungsian paksa (forced displacement) meskipun kondisi infrastruktur hancur total.

Sebelum perang, perbatasan Rafah beroperasi secara normal di bawah koordinasi otoritas Palestina dan Mesir tanpa intervensi 'Israel', memungkinkan ratusan orang melintas setiap harinya. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlineIsraelPalestinaGazaGenosidapengeboman