WASHINGTON D.C. (Arrahmah.id) - Sebuah dokumen rahasia FBI tahun 2020 yang baru-baru ini dirilis dalam berkas kasus Jeffrey Epstein mengungkap tuduhan mengejutkan bahwa mendiang miliarder pedofil tersebut "dilatih sebagai mata-mata" di bawah pengawasan mantan Perdana Menteri 'Israel', Ehud Barak.
Dokumen tersebut, yang ditandai sebagai laporan Confidential Human Source (CHS), awalnya berfokus pada intelijen mengenai pengaruh asing dalam proses pemilihan umum di Amerika Serikat. Namun, sumber intelijen tersebut memperluas kesaksiannya ke berbagai masalah sensitif lainnya, termasuk dugaan keterkaitan Epstein dengan badan intelijen Mossad.
Menurut laporan tersebut, sumber informasi membagikan catatan dari panggilan telepon antara profesor hukum Harvard, Alan Dershowitz, dan Epstein. Detail dari pembicaraan tersebut diduga diteruskan langsung ke agen intelijen luar negeri 'Israel', Mossad.
Informan tersebut, yang memberikan kesaksian pada 16 Oktober 2020, menyatakan keyakinannya bahwa Epstein adalah agen Mossad yang telah direkrut (co-opted). Selain itu, sumber tersebut melaporkan klaim bahwa Dershowitz sendiri telah direkrut oleh Mossad. Dershowitz merupakan sosok kontroversial yang pernah membela tokoh-tokoh besar seperti Epstein, Harvey Weinstein, hingga Donald Trump.
Berkas yang dirilis juga memperkuat bukti hubungan jangka panjang antara Epstein dan Ehud Barak, yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan 'Israel' (2007-2013). Dokumen menunjukkan bahwa Epstein memberikan saran kepada Barak mengenai perusahaan teknologi Palantir. Epstein meminta Barak memberikan pekerjaan kepada mantan menteri Inggris, Lord Peter Mandelson. Keduanya mendiskusikan biaya konsultasi "besar" yang akan dibayarkan kepada mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair.
Selain isu 'Israel', sumber FBI tersebut mengungkapkan kekhawatiran mengenai perusahaan modal ventura Day One Ventures di Silicon Valley. Perusahaan yang didirikan oleh mantan humas Epstein, Masha Bucher, diduga digunakan untuk "mencuri teknologi". Bucher sendiri disebut-sebut sebagai kontak utama Vladimir Putin dalam gerakan pemuda Rusia.
Dokumen itu juga menyinggung hubungan mendalam antara keluarga Jared Kushner (menantu Donald Trump) dengan 'Israel', serta sejarah praktik bisnis mereka yang diklaim korup, meskipun sumber tersebut tidak merinci lebih lanjut mengenai tuduhan korupsi tersebut.
Perdana Menteri 'Israel' saat ini, Benjamin Netanyahu, segera memberikan pernyataan melalui X untuk menanggapi rilis dokumen tersebut. Ia membantah keras bahwa hubungan erat Epstein dengan Ehud Barak mencerminkan keterlibatan Epstein dengan negara 'Israel'.
"Hubungan dekat Jeffrey Epstein yang tidak biasa dengan Ehud Barak tidak menunjukkan bahwa Epstein bekerja untuk 'Israel'. Itu membuktikan sebaliknya," tulis Netanyahu. Ia justru menuduh Barak secara obsesif mencoba merusak demokrasi 'Israel' dan bekerja sama dengan sayap kiri radikal untuk menggulingkan pemerintahannya yang sah. (zarahamala/arrahmah.id)
