GAZA (Arrahmah.id) -- Khalil al‑Hayya, salah satu pemimpin senior kelompok perlawanan Palestina Hamas yang kini menjadi negosiator utama dalam konflik Gaza, berulang kali lolos dari berbagai upaya pembunuhan yang ditujukan oleh 'Israel'. Upaya itu termasuk serangan udara di Doha, Qatar, pada 9 September 2025, yang dilaporkan menargetkan pimpinan kelompok Palestina tersebut.
Dalam serangan udara Israel di ibu kota Qatar, seperti dilansir Anadolu Agency, al‑Hayya dilaporkan hadir bersama para pemimpin Hamas lainnya yang tengah membahas proposal gencatan senjata dan pertukaran tahanan. Meski serangan tersebut menewaskan beberapa anggota delegasi, al‑Hayya muncul dalam kondisi selamat dan tampil di publik beberapa hari kemudian, menegaskan bahwa ia dan delegasi negosiasi tetap aktif.
Khalil al‑Hayya kini memainkan peran sentral sebagai salah satu pemimpin tertinggi Hamas, terutama setelah serangkaian pembunuhan terhadap pimpinan senior kelompok tersebut oleh militer 'Israel', termasuk Yahya Sinwar yang tewas dalam serangan pada Oktober 2024.
Profilnya menunjukkan bahwa al‑Hayya telah lama menjadi figur penting. Ia memegang sejumlah posisi strategis di Hamas, termasuk sebagai wakil ketua biro politik sebelum naik menjadi salah satu pemimpin utama setelah kematian para komandan senior, serta bertugas dalam negosiasi gencatan senjata dan perjanjian tahanan.
Selain keberhasilannya menghindari serangan langsung, beberapa anggota keluarganya juga telah menjadi korban konflik, menambah kompleksitas posisi al‑Hayya dalam dinamika perang yang terus berlanjut.
Kemampuan al‑Hayya untuk bertahan di tengah berbagai serangan yang menargetkan para pemimpin Hamas memperlihatkan bagaimana kelompok tersebut tetap mempertahankan struktur kepemimpinan inti, meskipun menghadapi tekanan militer yang intens dari Israel dan sekutunya di wilayah konflik. (hanoum/arrahah.id)
