Memuat...

Korea Utara Uji Coba Rudal Hipersonik Pertama di 2026, Alarm Geopolitik Asia Timur Kembali Menyala

Zarah Amala
Selasa, 6 Januari 2026 / 17 Rajab 1447 10:45
Korea Utara Uji Coba Rudal Hipersonik Pertama di 2026, Alarm Geopolitik Asia Timur Kembali Menyala
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menegaskan bahwa uji coba nuklir terbaru negaranya terjadi "di tengah krisis geopolitik terkini dan peristiwa internasional yang kompleks" (Reuters).

GAZA (Arrahmah.id) - Kantor Berita Pusat Korea Utara, Senin (5/1/2026), mengumumkan penggunaan apa yang disebut sebagai “sistem senjata baru yang canggih berbasis rudal hipersonik” dalam uji coba peluncuran rudal balistik pertama Pyongyang pada tahun 2026, yang dilakukan pada Ahad (4/1).

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un secara langsung mengawasi peluncuran rudal hipersonik tersebut. Ia menyatakan bahwa uji coba ini akan membantu negaranya mencapai kemajuan besar dalam mempersiapkan kekuatan nuklir untuk menghadapi “perang nyata.”

Kim menegaskan bahwa langkah tersebut dilakukan di tengah krisis geopolitik terkini dan kompleksitas peristiwa internasional, yang menurutnya menunjukkan urgensi manuver ini. Pernyataan tersebut merujuk secara tersirat pada operasi Amerika Serikat yang disebutnya sebagai upaya penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.

Kim Jong Un mengatakan bahwa ia bertujuan membangun kekuatan penangkal nuklir yang sangat maju secara bertahap, sebagaimana dikutip oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara. Kantor berita itu juga menyebutkan bahwa sistem senjata tersebut pertama kali diuji coba pada Oktober lalu.

Kantor berita Korea Utara tidak merinci jumlah rudal yang diluncurkan pada Minggu, namun menyatakan bahwa rudal tersebut mengenai sasaran sejauh sekitar 1.000 kilometer di Laut Jepang.

Kim Jong Un kembali menegaskan ambisinya membangun kekuatan penangkal nuklir tingkat lanjut.

Pesan Penangkal

Uji coba ini dilakukan setelah Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengecam operasi Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya. Pyongyang menyebut operasi tersebut sebagai “contoh baru dari sifat liar dan brutal Amerika Serikat” serta sebagai “pelanggaran serius terhadap kedaulatan Venezuela.”

Peluncuran rudal ini juga terjadi beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung bertolak ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas isu perdagangan dan Korea Utara, dengan harapan memanfaatkan pengaruh Beijing, yang memiliki hubungan dekat dengan Pyongyang, untuk mendorong perbaikan hubungan diplomatik antar-Korea.

Analis dari Institut Nasional Korea untuk Unifikasi di Seoul, Hong Min, mengatakan kepada AFP bahwa peluncuran tersebut dapat dipahami sebagai pesan bahwa Pyongyang memiliki kemampuan penangkal dan kapabilitas nuklir, berbeda dengan Venezuela.

Ia juga merujuk pada laporan media pemerintah Korea Utara yang menyebutkan bahwa Kim Jong Un mengunjungi fasilitas produksi senjata taktis berpemandu. Menurutnya, hal ini menunjukkan kemampuan Korea Utara untuk melancarkan serangan yang lebih presisi dibandingkan sistem peluncur roket ganda yang ada saat ini.

Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas militer Kim Jong Un meningkat signifikan. Ia mengunjungi lokasi pembuatan kapal selam bertenaga nuklir, memerintahkan peningkatan produksi rudal dan pembangunan pabrik, mengawasi uji coba dua rudal jelajah jarak jauh, serta memuji kemampuan sistem peluncur roket ganda terbaru.

Korea Utara diketahui telah mengintensifkan uji coba militernya dalam beberapa tahun terakhir, meskipun sebelumnya ada upaya pendekatan diplomatik yang dimulai oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada masa jabatan pertamanya.

Sejak pertemuan terakhir antara Kim Jong Un dan Donald Trump pada 2019, Pyongyang menyatakan diri sebagai “kekuatan nuklir permanen,” mempererat hubungan dengan Rusia, dan bahkan mengerahkan pasukannya untuk mendukung Moskow dalam perang melawan Ukraina.

Uji coba rudal balistik terakhir Korea Utara dilakukan pada November lalu, setelah Donald Trump memberikan lampu hijau kepada Korea Selatan untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir. (zarahamala/arrahmah.id)

Headlinenuklirkorea utarauji cobaasia timur