Memuat...

Lebih dari 1.000 Kasus Boikot Akademik terhadap 'Israel' Tercatat di Tengah Serangan ke Gaza

Zarah Amala
Rabu, 29 Oktober 2025 / 8 Jumadilawal 1447 13:29
Lebih dari 1.000 Kasus Boikot Akademik terhadap 'Israel' Tercatat di Tengah Serangan ke Gaza
Lebih dari 1.000 Kasus Boikot Akademik terhadap 'Israel' Tercatat di Tengah Serangan ke Gaza

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Lebih dari 1.000 insiden boikot akademik terhadap peneliti dan lembaga 'Israel' telah tercatat selama dua tahun terakhir, di tengah serangan genosida yang berkelanjutan terhadap Jalur Gaza, menurut laporan Haaretz.

Presiden Universitas Tel Aviv, Profesor Ariel Porat, mengakui bahwa situasi akademik 'Israel' saat ini merupakan yang terburuk dalam dua tahun terakhir. “Kami masih berharap situasinya membaik setelah perang berakhir, tetapi permusuhan terhadap 'Israel' belum mereda,” ujarnya.

Menurut laporan tersebut, Asosiasi Rektor Universitas 'Israel' mencatat lebih dari 1.000 kasus boikot yang dilakukan oleh lembaga pendidikan, asosiasi profesional, kelompok riset, maupun peneliti individu, tiga kali lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.

Boikot tersebut meliputi penolakan kerja sama penelitian, undangan konferensi, penghentian program pertukaran mahasiswa, penundaan publikasi artikel ilmiah, hingga komentar yang dianggap antisemit oleh pihak 'Israel'. Namun, Haaretz menambahkan bahwa “boikot tersembunyi terhadap 'Israel' jauh lebih luas” dari yang terdata resmi.

Seorang akademisi mengatakan kepada Haaretz bahwa “penelitian di 'Israel', salah satu aset strategis negara, kini berada di ambang kehancuran.”

Akademisi lain menambahkan bahwa para peneliti muda menjadi kelompok yang paling terdampak, sementara banyak lembaga luar negeri mengurangi dana hibah riset dan mengecualikan ilmuwan 'Israel' dari proyek kolaborasi internasional.

Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan dan Humaniora 'Israel', Profesor David Harel, menilai bahwa sebagian besar boikot bersifat terselubung, sehingga kerusakan sebenarnya sulit diukur. Ia memperingatkan bahwa dampaknya akan terasa pada pendanaan riset 'Israel' selama bertahun-tahun ke depan.

Empat Puluh Universitas Akhiri Kerja Sama dengan 'Israel'

Masih menurut Haaretz, sekitar 40 universitas luar negeri dalam dua tahun terakhir mengumumkan penghentian kerja sama dengan institusi 'Israel', baik secara penuh maupun sebagian.

Beberapa akademisi senior menyebut bahwa sejumlah universitas Israel kini berupaya membangun hubungan alternatif dengan lembaga-lembaga di Eropa Timur dan Asia, jika kolaborasi mereka terus ditolak oleh Eropa Barat.

Ada pula kekhawatiran bahwa para peneliti 'Israel' akan meninggalkan negaranya demi menjaga karier dan reputasi profesional mereka di dunia akademik internasional.

Profesor Milette Shamir dari Universitas Tel Aviv menyatakan bahwa situasi di Eropa “lebih buruk” dibandingkan Amerika Serikat. “Di sana, boikot berkembang pesat. Korban utamanya adalah peneliti muda. Ini kerusakan jangka panjang,” katanya.

Porat mengkritik pemerintah 'Israel' yang dinilainya gagal melindungi dunia akademik sebagaimana melindungi kepentingan lain negara tersebut.

“Kami tidak mendapat bantuan apa pun, tidak pendanaan untuk pertempuran hukum, tidak pula anggaran diplomasi publik,” ujarnya.

Laporan Komite Aksi Asosiasi Rektor Universitas pada Maret lalu mencatat bahwa jumlah insiden boikot tertinggi antara Oktober 2024 dan Februari 2025 terjadi di Amerika Serikat (70 kasus). Namun, sejak itu insiden di Eropa meningkat tajam, termasuk 45 kasus di Spanyol, 40 di Inggris dan Belanda, serta peningkatan 50 persen di Belgia dengan 69 kasus.

Boikot juga dilaporkan terjadi di Italia, Kanada, dan beberapa negara lain, menandai penurunan tajam dukungan akademik global terhadap 'Israel' sejak invasi ke Gaza dimulai. (zarahamala/arrahmah.id)