Memuat...

Netanyahu Isyaratkan Lanjutkan Perang, Abaikan Usulan Hamas Soal Gaza

Zarah Amala
Jumat, 22 Agustus 2025 / 29 Safar 1447 10:38
Netanyahu Isyaratkan Lanjutkan Perang, Abaikan Usulan Hamas Soal Gaza
Netanyahu Isyaratkan Lanjutkan Perang, Abaikan Usulan Hamas Soal Gaza

GAZA (Arrahmah.id) - Pernyataan Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu tentang dimulainya negosiasi segera untuk membebaskan tawanan dan mengakhiri perang di Jalur Gaza sesuai dengan "syarat yang dapat diterima Tel Aviv" menimbulkan banyak pertanyaan mengenai skenario yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Netanyahu, yang saat ini menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC), tidak menjelaskan sikapnya terhadap proposal yang telah disetujui oleh Hamas. Ia hanya menegaskan bahwa 'Israel' sedang berada pada “tahap penentuan,” bertepatan dengan kunjungannya ke markas Komando Divisi Gaza untuk menyetujui rencana pendudukan Kota Gaza.

Menurut analis urusan 'Israel', Muhannad Mustafa, pernyataan itu menunjukkan bahwa Netanyahu tidak berniat menyetujui kesepakatan saat ini. Sebaliknya, ia ingin melanjutkan perang, menduduki Gaza, dan kemudian bernegosiasi tentang syarat gencatan senjata. Netanyahu disebut telah meninggalkan opsi “kesepakatan parsial” dan kini lebih memilih jalur militer dengan menghancurkan Kota Gaza, seperti yang telah terjadi di berbagai wilayah utara dan selatan jalur tersebut.

Rencana masuknya pasukan 'Israel' ke Kota Gaza dan pengusiran sekitar satu juta penduduknya, menurut Mustafa, berarti “akhir dari jalur politik dan perundingan.” Ia menambahkan bahwa para pakar 'Israel' sendiri menilai operasi militer ini tidak akan mampu memaksa Hamas menyerah.

Beberapa jam setelah pernyataan itu, Channel 12 Israel mengutip orang dekat Netanyahu yang mengatakan bahwa negosiasi hanya mungkin dilakukan dalam bentuk “kesepakatan menyeluruh” sesuai dengan syarat kabinet keamanan, bukan dalam formula yang berlaku sekarang.

Dukungan Amerika

Peneliti urusan internasional Husam Shaker menilai langkah Netanyahu merupakan bagian dari kampanye yang bertujuan melenyapkan rakyat Palestina dari Jalur Gaza. 'Israel', katanya, mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat, di mana Presiden Donald Trump disebut memberikan “payung politik terbuka” untuk agresi militer tersebut.

Namun, menurut analis strategi Partai Republik, Adolfo Franco, dukungan Washington didasarkan pada dua syarat utama: menyingkirkan Hamas sebagai kekuatan militer-politik, dan membebaskan seluruh tawanan yang ditahan di Gaza.

Meski begitu, Shaker menekankan kondisi kemanusiaan di Gaza yang sangat parah membuat pihak Palestina menunjukkan kelonggaran dalam upaya menghentikan perang. Ia menilai perlawanan bersenjata tidak punya pilihan selain terus melawan, dan meski 'Israel' berhasil menduduki seluruh Gaza, stabilitas tidak akan tercapai.

Situasi di Lapangan

Sementara itu, tanda-tanda dimulainya operasi militer besar-besaran 'Israel' untuk menduduki Kota Gaza semakin jelas. Menurut pakar militer Mayor Jenderal Fayez al-Duwairi, pasukan 'Israel' sudah mulai menggempur bagian utara dan selatan kota, termasuk Jabalia dan Hayy al-Zaytoun, sebagai tahap awal.

Ia memperkirakan pasukan 'Israel' akan melakukan penyusupan secara perlahan dengan perlindungan tembakan artileri masif, untuk memaksa warga Gaza mengungsi ke arah selatan. Operasi ini, katanya, akan membawa tentara 'Israel' masuk ke “daerah-daerah kunci yang sebelumnya tidak pernah dicapai.” Namun, ia meragukan operasi tersebut akan berhasil menundukkan Hamas, mengingat serangan balasan Brigade al-Qassam di Khan Yunis baru-baru ini.

Media 'Israel' sebelumnya melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Yisrael Katz dan Kepala Staf Eyal Zamir telah menyetujui rencana pendudukan Kota Gaza, sesuai dengan keputusan terakhir kabinet keamanan 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)