WASHINGTON (Arrahmah.id) - Jutaan orang turun ke jalan di berbagai kota besar Amerika Serikat pada Sabtu (18/10/2025), mulai dari New York, Washington DC, Chicago, Miami, hingga Los Angeles, dalam aksi bertajuk “No Kings” yang menentang kebijakan Presiden Donald Trump.
Times Square di New York berubah jadi lautan manusia. Orang-orang berbondong-bondong membawa poster bertuliskan “Democracy not Monarchy” (Demokrasi, bukan Kerajaan) dan “The Constitution is not optional” (Konstitusi bukan pilihan).
Sebelum aksi dimulai, para pendukung Trump menuding para demonstran punya hubungan dengan kelompok sayap kiri radikal Antifa, dan menuding aksi itu sebagai “unjuk rasa benci Amerika.”
Beberapa negara bagian bahkan menyiagakan pasukan Garda Nasional. Tapi para penyelenggara menegaskan, protes yang diikuti hampir tujuh juta orang itu berjalan damai tanpa insiden berarti.
Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu, Trump memang memperluas kekuasaan eksekutifnya. Ia mengeluarkan sejumlah perintah untuk membongkar bagian-bagian dari pemerintahan federal, serta mengerahkan pasukan Garda Nasional ke kota-kota besar meski ditentang para gubernur. Ia juga mendorong pejabat hukum tertinggi pemerintahannya untuk menuntut musuh-musuh politiknya.
Trump sendiri membela diri. Ia mengatakan semua langkah itu perlu dilakukan demi “membangun kembali negara yang sedang krisis”, dan menepis tudingan bahwa ia bersikap seperti diktator atau fasis. “Itu cuma histeria,” ujarnya.
Namun para pengkritik menilai langkah-langkah tersebut melanggar konstitusi dan mengancam demokrasi Amerika.
Dalam cuplikan wawancaranya dengan Fox News yang tayang Ahad (19/10), Trump menanggapi aksi “No Kings” dengan nada sinis.
“Seorang raja? Ini bukan akting,” katanya. “Kalian tahu, mereka menyebut saya raja. Saya bukan raja.”
Di New York, massa meneriakkan yel-yel “This is what democracy looks like” (Inilah wujud demokrasi), diiringi dentuman genderang yang tak berhenti. Helikopter dan drone beterbangan di langit, sementara polisi berjaga di pinggir jalan.
Menurut Kepolisian New York, lebih dari 100.000 orang berkumpul di lima wilayah kota itu, tanpa satu pun penangkapan terkait aksi protes.
Salah satu peserta, Beth Zasloff, seorang penulis lepas, mengaku datang karena muak dan cemas melihat “arah Amerika yang makin condong ke fasisme dan pemerintahan otoriter.”
“Saya cinta New York,” katanya. “Dan berada di sini bersama begitu banyak orang memberi saya harapan.”
Ada juga Massimo Mascoli (68), pensiunan insinyur asal New Jersey yang tumbuh di Italia. Ia khawatir Amerika sedang mengikuti jejak kelam negaranya dulu.
“Kita tak bisa mengandalkan Mahkamah Agung, pemerintah, atau Kongres. Semua lembaga sekarang melawan rakyat. Jadi kita harus berjuang,” ujarnya.
Ribuan pengunjuk rasa memenuhi Times Square, New York selama protes "No Kings" pada Sabtu (18/10/2025). (Olga Fedorova/AP)
Aksi serupa juga mewarnai kota-kota lain, dari Kansas City hingga North Carolina dan Washington DC. Banyak yang datang dengan kostum unik, menari, dan bernyanyi sambil membawa spanduk.
Meski begitu, Amerika tetap terbelah soal Trump. Survei Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan hanya 40% rakyat yang puas dengan kinerjanya, sementara 58% menolak.
Sebagian pihak kanan menyebut aksi itu sebagai “rally kebencian terhadap Amerika”, tapi peserta menepis tudingan itu mentah-mentah.
Di Washington DC, Senator Bernie Sanders berpidato di depan massa. “Kita di sini bukan karena membenci Amerika,” katanya. “Kita di sini karena mencintai Amerika.”
Senator Chris Murphy dari Connecticut bahkan menyebut hari itu mungkin akan tercatat sebagai “hari protes damai terbesar dalam sejarah 250 tahun Amerika.”
Beberapa gubernur Republik sempat menyiagakan pasukan Garda Nasional. Gubernur Texas Greg Abbott menuding aksi di Austin berkaitan dengan Antifa, tapi sekitar 30.000 orang yang hadir justru berunjuk rasa dengan damai.
Di Washington DC, pasukan yang sudah disiagakan sejak Agustus pun tidak tampak di lokasi protes.
Seorang peserta membawa poster bertuliskan “I am Antifa”. Pria berusia 76 tahun bernama Chuck Epes menjelaskan, istilah itu bukan soal kekerasan.
“Itu cuma berarti saya mendukung perdamaian, penitipan anak, upah layak, dan layanan kesehatan,” katanya. “Trump mencoba menipu orang, tapi itu tidak berhasil.”
Protes “No Kings” juga meluas ke luar negeri. Aksi solidaritas terjadi di Berlin, Madrid, Roma, dan London, di mana ratusan orang berkumpul di depan Kedutaan Besar AS.
Di Toronto, Kanada, para demonstran berdiri di depan Konsulat AS sambil mengibarkan spanduk bertuliskan “Hands off Canada” (Jangan usik Kanada). (zarahamala/arrahmah.id)
