GAZA (Arrahmah.id) – Saat para petinggi militer 'Israel' terus mengklaim bahwa mereka telah menguasai sepenuhnya kota Rafah di selatan Jalur Gaza dan bahkan mulai merencanakan pendirian apa yang mereka sebut sebagai “kota kemanusiaan” di sana, Brigade Al-Qassam justru melancarkan serangkaian serangan kejutan yang secara langsung mementahkan klaim 'Israel' atas penguasaan wilayah tersebut.
Pada Rabu (23/7/2025), Al-Qassam mengumumkan bahwa mereka telah menjatuhkan 25 tentara 'Israel' antara tewas dan terluka dalam serangkaian operasi di wilayah timur Rafah. Selain itu, mereka juga merilis rekaman video yang mendokumentasikan penghancuran kendaraan militer 'Israel' di kamp Jabalia di Gaza utara.
Al-Qassam juga mengungkap bahwa pada Selasa (22/7), para pejuangnya menargetkan unit 'Israel' berisi 7 tentara dengan bom jenis “televisi” anti-personel, menimbulkan korban tewas dan luka.
Menurut analis militer Wesam Joni, rangkaian operasi ini membongkar narasi 'Israel' mengenai dominasi militer atas Rafah dan menepis angan-angan mereka untuk membangun zona aman di selatan Gaza.
Ia menyatakan bahwa serangan semacam ini, dilancarkan justru setelah 'Israel' menghancurkan Rafah dengan brutal, menjadi tamparan bagi klaim militer 'Israel' yang kini tampak tak kredibel bahkan di hadapan para pemimpin politik mereka sendiri.
Lebih dari itu, operasi ini juga menunjukkan bahwa perlawanan masih mampu menembus jantung area yang disebut “zona aman” milik 'Israel', meski serangan semacam ini tentu sangat berisiko dan memerlukan logistik serta informasi intelijen tingkat tinggi.
Perbedaan Antara “Masuk” dan “Menguasai”
Joni menegaskan bahwa perbedaan antara menyusup ke suatu wilayah dan benar-benar menguasainya sangat jelas dalam konteks Gaza. Fakta bahwa 'Israel' tidak mampu mencegah serangan balik perlawanan membuktikan bahwa mereka belum pernah benar-benar menguasai Rafah. Menurutnya, 'Israel' kini dihadapkan pada dua pilihan pahit: mundur atau terus menanggung kerugian besar akibat bertahan di Gaza.
Pasukan 'Israel' sendiri telah masuk ke Rafah sejak 14 bulan lalu, dan salah satu pejabat mereka bahkan mengklaim bahwa kota tersebut telah “diratakan.”
Namun, kenyataannya berbeda. Rafah justru kembali menjadi pusat operasi perlawanan yang menghantam berbagai sasaran strategis militer 'Israel', termasuk tank, kendaraan lapis baja, pengangkut personel, alat berat, hingga bangunan tempat tentara 'Israel' berlindung.
Serangan yang Mengguncang Diplomasi dan Psikologis Militer
Menurut Joni, keberhasilan perlawanan bukan hanya soal kekuatan tempur, tetapi juga soal kecerdikan dalam mengumpulkan data intelijen di medan yang sangat berbahaya. Para pejuang mempertaruhkan nyawa di zona yang diawasi 'Israel' 24 jam, namun mereka berhasil menyelinap, mengamati, dan menyerang tepat sasaran.
Joni juga menyoroti bahwa berkali-kali 'Israel' gagal menumpas infrastruktur militer Hamas di wilayah utara Gaza, seperti di Jabalia dan Deir al-Balah, meski mengerahkan divisi-divisi elite seperti Divisi 98. Kini, strategi Israel terlihat berubah dari ofensif menjadi defensif, sekadar bertahan sambil terus menerima pukulan.
Sebagai respons terhadap klaim Kepala Staf Israel Eyal Zamir yang mengatakan bahwa operasi Deir al-Balah telah mencapai tujuannya, Al-Qassam justru merilis video baru yang menunjukkan penghancuran tank dan dua kendaraan pasukan 'Israel' di selatan dan timur kota tersebut.
Menurut kolonel militer Nidal Abu Zaid, bukti visual dari Al-Qassam itu menunjukkan bahwa 'Israel' mengakhiri operasi bukan karena sudah menang, tapi karena kerugiannya terlalu besar.
Serangan terbaru Al-Qassam di Rafah dan wilayah lainnya membuktikan satu hal: klaim kontrol total 'Israel' atas Gaza tidak berdiri di atas realitas militer. Di balik reruntuhan dan pengepungan, perlawanan Palestina masih hidup, bergerak, dan melawan, dengan nyawa sebagai taruhan. (zarahamala/arrahmah.id)
