Memuat...

Para Menteri 'Israel' Dorong Kembali Operasi Militer Brutal di Gaza

Zarah Amala
Selasa, 21 Oktober 2025 / 30 Rabiulakhir 1447 09:15
Para Menteri 'Israel' Dorong Kembali Operasi Militer Brutal di Gaza
Bezalel Smotrich (kiri) dan Benjamin Netanyahu (kanan) (QNN)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Para menteri, jurnalis, dan analis 'Israel' menyerukan agar pemerintah kembali melanjutkan serangan brutal ke Jalur Gaza, dengan alasan bahwa semua tentara 'Israel' yang sempat disandera kini telah dibebaskan. Seruan ini muncul setelah seorang perwira dan seorang prajurit 'Israel' tewas, serta beberapa lainnya terluka, dalam bentrokan di Rafah, Gaza selatan, pada Ahad (19/10/2025).

Menteri Pendidikan Yoav Kisch mengisyaratkan bahwa gencatan senjata bisa segera runtuh. “Perjanjian ini mungkin sedang menuju kegagalan total, atau mungkin tidak,” ujarnya. “Kami akan menyerang dengan keras. Sekarang, karena tidak ada lagi sandera hidup di Gaza, tentara memiliki lebih sedikit batasan.”

Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir berbicara lebih blak-blakan lagi. “Tidak ada lagi alasan untuk tidak melanjutkan perang dan membuka gerbang neraka atas Gaza,” katanya. Ia mengklaim bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah meyakinkannya berulang kali bahwa “perang ini tidak akan berakhir sebelum Hamas benar-benar dihapuskan.”

Netanyahu, yang kini menghadapi tuntutan di Mahkamah Pidana Internasional, disebut mengatakan kepada Ben Gvir bahwa tujuannya adalah “bukan hanya mengeksekusi para teroris, tetapi menghancurkan seluruh gerakan Hamas.”

Brigadir Jenderal (purn.) Dedi Simchi, mantan komandan Korps Sinyal dan Penyelamatan 'Israel', menambahkan, “Kita telah memulihkan semua sandera yang masih hidup. Sekarang kita bisa membombardir puluhan lokasi yang sebelumnya dilarang untuk diserang.”

Nada serupa disampaikan Brigadir Jenderal (purn.) Aharon Zini, mantan komandan Brigade Menashe di Tepi Barat bagian utara. “Saya sepenuhnya mendukung pandangan Simchi. Sekarang kita bisa melakukan hal-hal yang dulu dilarang, dan kita tidak akan berhenti sampai menemukan semua jenazah.”

Namun, analis militer Ron Ben-Yishai dari surat kabar Yedioth Ahronoth mengingatkan agar berhati-hati. Ia mengatakan detail insiden di Rafah masih belum jelas, dan menambahkan bahwa militer 'Israel' memang sedang melakukan operasi di wilayah tersebut saat kejadian berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)