Memuat...

Peringati Tahun Baru Islam, JIC Hidupkan Kembali Semangat Dakwah Pangeran Jayakarta Lewat Drama Kolosal

Samir Musa
Selasa, 1 Juli 2025 / 6 Muharam 1447 14:59
Peringati Tahun Baru Islam, JIC Hidupkan Kembali Semangat Dakwah Pangeran Jayakarta Lewat Drama Kolosal
Peringati Tahun Baru Islam, JIC Hidupkan Kembali Semangat Dakwah Pangeran Jayakarta Lewat Drama Kolosal

JAKARTA (Arrahmah.id) — Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah dan HUT DKI Jakarta ke-498, Jakarta Islamic Centre (JIC) sukses menggelar pentas drama kolosal sejarah bertajuk Pangeran Jayakarta: Cahaya Islam di Bumi Betawi, Senin (30/6/2025) malam, di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Pertunjukan megah ini dibuka langsung oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang menyampaikan apresiasi dan kebanggaan terhadap pementasan yang memadukan unsur sejarah, seni, dan dakwah Islam.

"Saya bangga dan bahagia kalau para alim ulama, para kiai sudah main drama. Hati saya bangga," ujar Rano di hadapan ribuan penonton. Ia juga menyampaikan salam dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang berhalangan hadir.

Rano berharap pertunjukan seperti ini bisa digelar lebih besar dan menjangkau lebih banyak masyarakat. “Ini cara indah mengenalkan sejarah perjuangan Islam kepada generasi muda dan warga Jakarta,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ), KH Didi Supandi, menegaskan bahwa pentas ini bukan sekadar hiburan, tapi bagian dari syiar Islam dan upaya membumikan semangat perjuangan tokoh-tokoh Islam dalam membela kebenaran dan menolak penjajahan.

"Saya berharap nilai dari cerita ini memperkuat semangat persatuan untuk membangun bangsa, khususnya Jakarta," tutur Kiai Didi. Ia menambahkan bahwa momentum Muharram memiliki makna keselamatan dan kebangkitan, dan harus dijadikan pijakan untuk menjaga persatuan umat.

Kepala PPIJ, KH Muhyiddin Ishaq, dalam arahannya sebelum pertunjukan, menyerukan agar kehadiran Jakarta Islamic Centre lebih dirasakan masyarakat. Menurutnya, JIC harus aktif menjangkau berbagai kalangan, tidak hanya lewat kajian keislaman, tapi juga melalui program budaya dan ekonomi syariah.

"Keberadaan kita harus membumi. Masyarakat harus merasakan manfaat JIC, bukan hanya secara fisik, tapi melalui nilai-nilai Islam yang menyentuh kehidupan mereka," ungkap KH Muhyiddin.

Tahun ini merupakan kali kedua JIC mementaskan drama kolosal sejarah. Tahun lalu, kisah Syekh Subakir — salah satu ulama penyebar Islam awal di Nusantara — diangkat ke panggung yang sama. Kali ini, tokoh Pangeran Jayakarta, pejuang Islam dari Batavia, menjadi sorotan utama.

Disutradarai oleh Prof. Imam Sulewardho Bumiayu, pertunjukan menampilkan kisah heroik Pangeran Jayakarta yang berdakwah dan melawan ketidakadilan kolonial Belanda. Sosoknya digambarkan sebagai pemimpin pemberani yang menjadi target utama penjajah karena konsistensinya menyuarakan nilai-nilai Islam dan keadilan.

Penguatan suasana emosional pentas dibangun lewat sentuhan musik religius dan tradisional karya Music Director H. Agus Suradika. Produksi pertunjukan dipimpin oleh Ir. H. Sukri Karjono yang memastikan seluruh rangkaian berjalan lancar dan tertata profesional.

Yang menarik, sejumlah tokoh Islam dan akademisi juga turut ambil bagian dalam pertunjukan ini. Prof. Bunyamin dari Baznas Bazis DKI Jakarta memerankan tokoh Fatahillah, sementara nama-nama seperti Edi Sukardi, Tadjuddin, Nurlina Rahman, Anita Damayanti, dan Lelly Qodariah turut memperkuat nilai dakwah yang disampaikan.

Melalui pertunjukan ini, JIC menunjukkan bahwa dakwah tidak harus kaku dan formal, tapi bisa menyentuh hati umat melalui seni, budaya, dan narasi sejarah yang membangkitkan semangat perjuangan.

(Samirmusa/arrahmah.id)