Memuat...

Profil Charles Holland Taylor, Penasihat Khusus Gus Yahya yang Dicopot Rais Aam PBNU

Ameera
Selasa, 25 November 2025 / 5 Jumadilakhir 1447 06:39
Profil Charles Holland Taylor, Penasihat Khusus Gus Yahya yang Dicopot Rais Aam PBNU
Profil Charles Holland Taylor, Penasihat Khusus Gus Yahya yang Dicopot Rais Aam PBNU

JAKARTA (Arrahmah.id) - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Ahyar resmi mencopot Charles Holland Taylor dari jabatan sebagai penasihat khusus Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) untuk urusan internasional.

Kebijakan ini tercantum dalam Surat Edaran Nomor 4780/PB.23/A.II.10.71/99/11/2025, yang ditandatangani KH Miftachul Ahyar pada 22 November 2025.

Surat tersebut berisi pencabutan tanda tangan Rais Aam atas keputusan awal yang menetapkan Taylor sebagai penasihat khusus internasional.

Langkah ini diambil setelah mencuat sejumlah sorotan, termasuk dugaan afiliasi tertentu yang dinilai sensitif bagi posisi PBNU dalam konteks politik luar negeri.

Isu Dugaan Zionisme Jadi Salah Satu Faktor

Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, mengakui bahwa pencopotan Taylor berkaitan dengan isu dugaan zionisme yang belakangan mencuat di ruang publik maupun internal NU.

“Iya, itu salah satunya,” ujar Gus Ipul saat dijumpai di Jakarta, Senin (24/11).

Namun, ia tidak merinci lebih jauh alasan pencopotan tersebut. Menurutnya, penjelasan lengkap akan disampaikan langsung oleh jajaran Syuriah PBNU sesuai prosedur organisasi.

“Otoritas penyelesaian berada di jajaran Syuriyah PBNU yang dipimpin Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam,” katanya.

Ia menegaskan bahwa persoalan ini adalah urusan internal yang sedang ditangani sesuai mekanisme dan AD/ART PBNU.

Profil Charles Holland Taylor

Charles Holland Taylor bukan tokoh baru dalam lingkaran kerja sama internasional PBNU. Ia memiliki rekam jejak panjang dalam aktivitas keagamaan dan diplomasi budaya lintas negara.

Taylor dibesarkan di Eropa dan Asia, pernah menghabiskan masa hidupnya di Jerman, Korea Selatan, dan Iran. Ia dikenal sebagai ahli sejarah Islamisasi Jawa pada abad ke-15 dan 16, dengan karier intelektual dan profesional yang menempatkannya dekat dengan berbagai tokoh besar NU.

Selama lebih dari dua dekade, Taylor tinggal, belajar, dan bekerja di berbagai negara, termasuk Iran dan Indonesia.

Peran dan kiprahnya antara lain:

  • Pendiri, ketua, dan CEO LibForAll Foundation sejak 2003 bersama Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

  • Salah satu pendiri Bayt ar-Rahmah, lembaga yang dibangun bersama KH A Mustofa Bisri dan KH Yahya Cholil Staquf untuk menguatkan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di tingkat global.

  • Penggagas Gerakan Humanitarian Islam, yang menyerukan reformasi prinsip ortodoksi Islam menuju dakwah berbasis rahmah.

  • Pendiri dan CEO Center for Shared Civilizational Values (CSCV), yang pada 2022 ditetapkan PBNU sebagai lembaga utama untuk keterlibatan internasional dan Sekretariat Tetap Forum Agama G20 (R20).

Pada 2017, Bayt ar-Rahmah bersama Gerakan Pemuda Ansor meluncurkan gerakan global “Islam Kemanusiaan,” yang berupaya menolak narasi kebencian dan kekerasan atas nama agama.

Menunggu Keputusan Lanjutan dari Syuriah PBNU

Gus Ipul menegaskan bahwa PBNU kini menunggu langkah lanjutan dari jajaran Syuriah PBNU. Ia meminta semua pihak tetap tenang serta mempersilakan ulama memproses persoalan ini sesuai nilai agama dan aturan organisasi.

Keputusan pencopotan Taylor menjadi babak baru dalam dinamika internal PBNU yang sedang berkembang. Hasil akhir proses organisasi diperkirakan akan menentukan arah kebijakan PBNU dalam politik dan diplomasi internasional ke depan.

(ameera/arrahmah.id)