Memuat...

RS Yarsi Tangani 6 Siswa SMAN 72 dengan Gendang Telinga Robek

Ameera
Kamis, 13 November 2025 / 23 Jumadilawal 1447 20:47
RS Yarsi Tangani 6 Siswa SMAN 72 dengan Gendang Telinga Robek
RS Yarsi Tangani 6 Siswa SMAN 72 dengan Gendang Telinga Robek

JAKARTA (Arrahmah.id) — Direktur Rumah Sakit (RS) Yarsi, dr. Muhammadi  menyampaikan bahwa sebagian besar korban ledakan di SMA Negeri (SMAN) 72 Jakarta mengalami gejala ringan hingga sedang.

Namun, terdapat enam siswa yang mengalami robek pada membran gendang telinga, dan tiga di antaranya direncanakan menjalani operasi.

“Hasil pemeriksaan kita saat ini menunjukkan gejala ringan sampai sedang. Jadi, untuk permanen rasanya belum. Kita masih berproses, dari 17 yang dirawat inap ada enam yang memang membran gendang telinganya robek dan akan kita evaluasi lebih lanjut,” ujar dr. Muhammadi, Kamis (13/11/2025).

Menurutnya, tiga siswa dengan luka cukup besar akan menjalani operasi, sementara luka kecil diharapkan menutup secara alami karena usia korban yang masih muda.

“Yang lukanya kecil itu diharapkan menutup dengan sendirinya, menurut para pakar THT di tempat kami. Itu akan kami monitor dan evaluasi melalui rawat jalan,” jelasnya.

Pihak rumah sakit juga masih berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta terkait mekanisme pembiayaan penanganan pasien korban ledakan.

“Kami masih berkoordinasi dengan Dinkes DKI Jakarta untuk membicarakan teknis pembiayaan. Dari hasil kunjungan Pak Menteri Sosial, Bu Menteri PPPA, dan Pak Wakil Gubernur, dinyatakan bahwa penanganan ini akan dijamin oleh pemerintah. Saat ini kami menunggu mekanisme resmi dari Pemprov DKI,” tambah dr. Muhammadi.

Penanganan Trauma Jangka Panjang

Aktivis perdamaian Hasibullah Sastrawi menilai bahwa penanganan pasca-ledakan tidak boleh berhenti pada aspek medis semata, melainkan juga harus memperhatikan pemulihan psikologis dan sosial siswa secara berkelanjutan.

“Yang paling penting sekarang adalah belajar dari pengalaman. Walaupun mungkin berbeda dengan kasus bom terorisme, tetap ada potensi efek jangka panjang,” ujarnya.

Menurut Hasibullah, pemerintah dan seluruh pemangku kebijakan harus bekerja secara terstruktur dan sistematis dalam mendampingi pihak sekolah.

“Kita harus mulai bekerja secara sistematis, mendukung struktur yang sudah ada di sekolah. Jangan justru diabaikan atau diambil alih sepenuhnya, karena itu bisa memperumit proses pemulihan,” tegasnya.

Ia juga mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) untuk melakukan pengawasan menyeluruh dan berkelanjutan, berkolaborasi dengan pihak sekolah dan para guru.

Peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta sebelumnya menyebabkan sejumlah siswa mengalami luka akibat ledakan yang masih dalam penyelidikan aparat kepolisian.

Pemerintah memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan medis dan dukungan psikologis yang diperlukan.

(ameera/arrahmah.id)