GAZA (Arrahmah.id) - Taysir Sulaiman, mantan tahanan Palestina dan rekan dekat komandan tertinggi Brigade Al-Qassam, Mohammed Deif, mengungkap detail baru mengenai sosok yang selama tiga dekade menjadi target utama 'Israel'.
Dalam wawancara eksklusif, Sulaiman menggambarkan Deif sebagai pribadi sederhana namun visioner, yang memiliki pengaruh strategis besar dalam perlawanan bersenjata terhadap pendudukan 'Israel'. Menurutnya, Deif bukan hanya pemimpin militer, tetapi juga sosok yang dikenal karena kedekatannya dengan rekan-rekannya, semangat pengorbanan, dan kebiasaan mendalam dalam membaca sejarah perlawanan.
Mohammed Deif, atau nama aslinya Mohammed Diab Ibrahim Al-Masri, lahir pada 1965 dari keluarga pengungsi Palestina. Ia bergabung dengan Hamas sejak awal pendiriannya pada 1987 dan ikut membentuk sayap militernya, Brigade Al-Qassam, sebelum akhirnya memimpin sayap militer tersebut pada 2002.
Nama “Deif” (tamu) disematkan karena kebiasaannya tidak tinggal lama di satu tempat, strategi yang membantunya lolos dari setidaknya delapan upaya pembunuhan 'Israel', termasuk serangan udara yang menewaskan istri dan dua anaknya.
Koordinasi Operasi di Gaza dan Tepi Barat
Sulaiman menceritakan pertemuan awalnya dengan Deif di Gaza, yang saat itu ditemani oleh pejuang senior Muhi Al-Din Al-Sharif. Bersama Deif, ia kemudian tinggal di Yerusalem dan Hebron selama tujuh bulan untuk membangun kembali jaringan perlawanan Hamas di Tepi Barat.
Salah satu pencapaian mereka adalah peluncuran operasi bersenjata serentak di Gaza dan Yerusalem, yang dieksekusi pada hari dan jam yang sama, sebuah langkah yang menunjukkan tingkat koordinasi tinggi.
Deif dikenal sangat memperhatikan detil setiap operasi. Ia kerap meminta laporan menyeluruh dari anak buahnya, menganalisis peristiwa menit demi menit. Ia juga rajin membaca dan mempelajari pengalaman gerakan perlawanan sebelumnya, serta menekankan pentingnya kesiapan di semua lini, manusia, militer, dan intelijen.
Menurut Sulaiman, strategi Deif sangat tercermin dalam Operasi Banjir Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, yang berhasil mengejutkan Israel dengan skala dan tingkat perencanaannya.
Dari Kekurangan Senjata hingga Peninggalan Kepemimpinan
Dalam kondisi minim peralatan dan di bawah blokade ketat, Deif tetap mendorong para pejuangnya untuk menjalankan misi mereka. Sulaiman mengingat bagaimana mereka harus berpindah dari satu kota ke kota lain hanya untuk memperoleh beberapa butir peluru. Namun hal itu tak menyurutkan semangat sang komandan.
Ia juga menegaskan bahwa wafatnya Deif, yang diumumkan secara resmi oleh juru bicara Al-Qassam Abu Ubaida pada 30 Januari 2025, tak akan melemahkan perlawanan. Hamas, kata dia, dibangun di atas struktur organisasi kuat dengan kader lapangan yang siap mengambil alih tanggung jawab.
Sejak 1995, kekuatan militer Hamas berkembang dari puluhan orang menjadi puluhan ribu pada 2023. Bahkan pembunuhan tokoh penting seperti Sheikh Ahmad Yasin dan Salah Shehadeh sebelumnya tidak menghentikan perjuangan, justru memperkuatnya.
"Tamu" yang Tak Pernah Tertangkap
'Israel' hanya memiliki satu foto Deif, diambil saat ia masih berusia tiga puluhan, digunakan untuk membuat kartu identitas palsu demi menjalankan aktivitasnya. Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi simbol perlawanan yang paling dicari oleh dinas keamanan 'Israel'.
“Mohammed Deif kini telah menjadi ‘tamu’ di setiap rumah Arab dan Muslim yang mendukung perjuangan Palestina,” ujar Sulaiman. “Ia meninggalkan warisan yang akan terus menginspirasi generasi baru perlawanan.” (zarahamala/arrahmah.id)
