ANKARA (Arrahmah.id) -- Sebuah survei terbaru mengungkap fenomena yang memantik perhatian global: mayoritas warga Turki disebut siap menghadapi kemungkinan perang dan menginginkan Presiden Recep Tayyip Erdogan menjadi pemimpin utama jika konflik pecah. Temuan ini mencerminkan meningkatnya rasa ancaman keamanan serta kepercayaan sebagian masyarakat terhadap kepemimpinan Erdogan di masa krisis.
Dilansir Turkiye Today (9/2/2026), sekitar 57 persen responden menyatakan ingin Erdogan memimpin negara dalam situasi perang, dengan dukungan disebut jauh melampaui pesaing politik terdekatnya. Survei tersebut menggambarkan kecenderungan publik yang menilai figur presiden sebagai sosok paling kuat dalam kondisi darurat nasional, sekaligus menunjukkan persepsi ancaman keamanan yang masih tinggi di kawasan.
Sentimen kesiapan menghadapi konflik bukan fenomena baru di Turki. Negara anggota NATO itu selama bertahun-tahun menghadapi dinamika geopolitik kompleks, mulai dari konflik Suriah di perbatasan hingga ancaman kelompok bersenjata dan ketegangan regional. Para analis menilai kondisi tersebut membentuk opini publik yang cenderung mendukung kepemimpinan kuat dalam situasi krisis.
Beberapa survei dan pemilu sebelumnya juga menunjukkan basis dukungan signifikan terhadap Erdogan. Ia berhasil memenangkan kembali kursi presiden dalam pemilu nasional dengan lebih dari 52 persen suara, menandakan loyalitas elektoral yang kuat di tengah kompetisi politik ketat.
Namun, opini publik di Turki tetap terbelah. Sejumlah survei dan dinamika politik menunjukkan persaingan sengit antara pemerintah dan oposisi, termasuk gelombang protes serta polarisasi politik yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Pengamat politik menilai keinginan sebagian warga agar Erdogan memimpin saat perang juga dipengaruhi persepsi stabilitas dan keamanan nasional, meski kritik terhadap pemerintahan tetap kuat di kalangan oposisi dan kelompok masyarakat sipil.
Hingga kini, pemerintah Turki belum memberikan tanggapan resmi terkait hasil survei tersebut. Namun, temuan ini memperlihatkan bagaimana dinamika geopolitik dan kondisi keamanan regional terus memengaruhi opini publik serta arah diskursus politik di negara yang berada di persimpangan Eropa dan Timur Tengah itu. (hanoum/arrahmah.id)
