SYDNEY (Arrahmah.id) -- Sebuah video yang beredar luas di media sosial memicu kontroversi setelah memperlihatkan sekelompok warga Muslim yang sedang melaksanakan salat di Sydney disebut dibubarkan aparat kepolisian. Rekaman tersebut memancing reaksi keras warganet internasional serta kembali memunculkan perdebatan mengenai kebebasan beragama, keamanan publik, dan meningkatnya ketegangan terhadap komunitas Muslim di Australia.
Dilansir The Guardian (9/2/2026), ketegangan bermula saat sekelompok warga Muslim menggelar aksi yang diwarnai kegiatan ibadah di kawasan Sydney. Polisi kemudian turun tangan membubarkan kegiatan tersebut, memicu keributan serta kecaman dari organisasi Muslim setempat yang menyebut tindakan aparat “tidak dapat diterima” dan berpotensi meningkatkan ketegangan sosial.
Sejumlah organisasi masyarakat Muslim menyampaikan protes keras dan menuntut penyelidikan independen. Mereka menilai pendekatan aparat tidak sensitif terhadap aspek religius kegiatan tersebut, apalagi ketika peserta aksi sedang melaksanakan shalat. Kritik juga datang dari tokoh masyarakat yang menilai polisi seharusnya mengedepankan dialog dibanding tindakan represif.
https://www.youtube.com/shorts/FTjF7LsztJ4
Di sisi lain, kepolisian New South Wales membela langkahnya dengan alasan menjaga ketertiban umum serta memastikan aksi publik berjalan sesuai aturan. Pihak berwenang menegaskan bahwa pembubaran dilakukan bukan karena unsur agama, melainkan karena pelanggaran ketentuan perizinan dan kekhawatiran soal keamanan.
Insiden ini juga mendapat perhatian media internasional yang menyoroti meningkatnya ketegangan sosial di sejumlah kota Barat terkait konflik global dan demonstrasi solidaritas Palestina. Berbagai laporan menyebut pemerintah Australia berada di bawah tekanan untuk menyeimbangkan kebebasan sipil dengan keamanan publik, terutama setelah serangkaian aksi protes besar dalam beberapa bulan terakhir.
Hingga kini, polemik masih berlangsung dengan tuntutan investigasi dan dialog lintas komunitas terus menguat. Para pengamat menilai peristiwa ini bisa menjadi ujian penting bagi Australia dalam menjaga harmoni sosial di tengah meningkatnya sensitivitas politik dan agama di ruang publik.
