GAZA (Arrahmah.id) - Serangan udara 'Israel' yang menargetkan sebuah apartemen tempat pengungsian di Gaza Barat pada Senin (9/2/2026) menewaskan empat warga Palestina dan melukai beberapa lainnya. Insiden ini menambah jumlah korban jiwa menjadi 10 orang dalam satu hari akibat serangkaian serangan terpisah di berbagai titik Jalur Gaza.
Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa serangan mematikan tersebut terjadi di Jalan Al-Nasr, Gaza Barat, sebuah lokasi yang berada di luar zona penyebaran resmi militer 'Israel'. Kekerasan juga meluas ke wilayah perairan dan lahan pertanian, seorang nelayan terluka akibat tembakan di lepas pantai Khan Younis, sementara dua warga sipil lainnya tewas akibat penembakan di Beit Lahia (utara) dan Deir al-Balah (tengah) saat mereka sedang beraktivitas di luar area militer.
Di wilayah selatan, militer 'Israel' mengumumkan telah menewaskan empat warga Palestina di kota Rafah, wilayah yang saat ini masih diduduki berdasarkan kesepakatan gencatan senjata. Pihak militer mengklaim bahwa pasukannya dari Brigade 7 mendeteksi empat orang bersenjata keluar dari terowongan di timur Rafah dan melepaskan tembakan ke arah tentara, yang kemudian dibalas dengan serangan mematikan. Klaim serupa mengenai "operasi terowongan" telah sering digunakan militer 'Israel' dalam beberapa pekan terakhir untuk membenarkan kematian puluhan warga di wilayah tersebut.
Sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober tahun lalu, 'Israel' dilaporkan terus melakukan pelanggaran harian. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan per Senin menunjukkan bahwa total 581 warga Palestina telah gugur dan 1.553 lainnya luka-luka selama periode gencatan senjata ini.
Kondisi bencana dialami oleh sekitar 2,4 juta penduduk Gaza, termasuk 1,5 juta pengungsi, akibat tindakan 'Israel' yang menghambat masuknya bantuan kemanusiaan. Bahan makanan, obat-obatan, peralatan medis, hingga rumah siap pakai yang telah disepakati dalam perjanjian tetap tertahan di perbatasan.
Perang yang berlangsung selama dua tahun terakhir dengan dukungan Amerika Serikat ini telah meninggalkan jejak kehancuran yang masif: lebih dari 72.000 warga gugur, 171.000 luka-luka, dan 90% infrastruktur hancur total. PBB memperkirakan biaya rekonstruksi untuk memulihkan Gaza akan mencapai angka fantastis sebesar 70 miliar dolar AS. (zarahamala/arrahmah.id)
