Memuat...

Siapa Saja yang Akan Dibebaskan dalam Kesepakatan Pertukaran Tawanan Gaza?

Zarah Amala
Senin, 13 Oktober 2025 / 22 Rabiulakhir 1447 07:50
Siapa Saja yang Akan Dibebaskan dalam Kesepakatan Pertukaran Tawanan Gaza?
Sebuah protes di Ramallah untuk mendukung warga Gaza dan tahanan Palestina di penjara 'Israel' pada November 2023. [Getty]

GAZA (Arrahmah.id) - Dalam beberapa saat ke depan, Hamas diperkirakan akan mulai membebaskan para tawanan 'Israel' yang telah mereka tahan di Gaza selama lebih dari dua tahun.

Kesepakatan yang dicapai pekan lalu melalui mediator, setelah berbulan-bulan negosiasi, diharapkan akan membuka jalan bagi pembebasan seluruh tawanan, pelepasan hampir 2.000 tahanan Palestina, serta berakhirnya agresi genosida 'Israel' terhadap Jalur Gaza.

Siapa saja tahanan Palestina yang akan dibebaskan oleh 'Israel'?

'Israel' telah menyetujui pembebasan hampir 2.000 tahanan dan tahanan administratif Palestina, sebagian besar dari mereka ditahan tanpa dakwaan di fasilitas penahanan dan kamp militer 'Israel'.

Kementerian Kehakiman 'Israel' merilis daftar 250 tahanan seumur hidup yang akan dibebaskan. Mayoritas dari mereka ditahan sejak masa Intifada Kedua pada awal tahun 2000-an dan berasal dari berbagai faksi seperti Fatah, Hamas, dan Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP).

Lebih dari separuh akan dideportasi ke Gaza atau ke luar negeri, sementara 115 orang akan dibebaskan ke Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Selain itu, lebih dari 1.700 warga Palestina, termasuk 22 anak-anak, yang ditangkap dari Gaza selama perang tanpa dakwaan, juga akan dibebaskan.

'Israel' juga berjanji akan mengembalikan jenazah 360 warga Gaza yang tewas, meskipun menolak menyerahkan jenazah mantan pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar, dan saudaranya, Mohammed Sinwar.

Namun, 'Israel' menegaskan bahwa semua tahanan ini baru akan dibebaskan setelah Hamas mengembalikan 48 tawanan yang masih ditahan di Gaza.

Siapa yang ditolak untuk dibebaskan oleh Israel?

'Israel' menolak membebaskan tujuh tahanan profil tinggi, meskipun Hamas bersikeras agar mereka dimasukkan dalam kesepakatan.

Di antara mereka adalah Marwan Barghouti, pemimpin senior Fatah yang dianggap banyak pihak sebagai calon penerus Mahmoud Abbas, dan Ahmad Sa’adat, mantan kepala PFLP.

Keduanya menjalani hukuman panjang terkait aksi perlawanan selama Intifada Kedua.

Nama-nama lain yang juga ditolak termasuk Abbas al-Sayyid dan Hassan Salameh, mantan komandan Hamas yang divonis penjara seumur hidup berkali-kali.

'Israel' juga menolak membebaskan dua dokter asal Gaza, Hussam Abu Safiya, kepala Rumah Sakit Kamal Radwan, dan Marwan al-Hamas, direktur Rumah Sakit Mohammed Yousef El-Najar di Rafah.

Abu Safiya, seorang dokter anak, telah ditahan tanpa dakwaan selama hampir satu tahun setelah diculik oleh pasukan 'Israel' pada Desember 2024.

Siapa saja tawanan yang masih berada di Gaza?

Hamas dan kelompok perlawanan lainnya masih menahan 48 tawanan 'Israel' di Gaza, lebih dari separuh di antaranya diyakini telah meninggal dunia.

Sedikitnya 11 orang di antaranya adalah anggota militer 'Israel' aktif saat ditangkap. Mayoritas diyakini telah tewas, termasuk Hadar Goldin (letnan Brigade Givati) dan Asaf Hamami (komandan Brigade Selatan Divisi Gaza).

Dari 20 orang yang diduga masih hidup, sebagian besar ditangkap dari festival musik Nova dan kibbutz di dekat perbatasan Gaza. Tiga di antaranya adalah anggota militer 'Israel': Matan Angrest, Nimrod Cohen, dan Rom Braslavski.

Di antara korban tewas terdapat 12 warga kibbutz dan tiga peserta festival Nova.

Empat tawanan adalah warga asing: dua pekerja pertanian asal Thailand, serta dua mahasiswa dari Nepal dan Tanzania. Semuanya diyakini telah tewas, kecuali mahasiswa Nepal bernama Bipin Joshi, yang nasibnya masih belum diketahui.

Hamas diperkirakan akan mulai menyerahkan para tawanan yang masih hidup kepada Palang Merah pagi ini.

Sesuai kesepakatan, kelompok tersebut memiliki waktu 72 jam untuk menyelesaikan proses pembebasan setelah pasukan Israel menarik diri sepenuhnya dari fase pertama.

Namun, pengembalian jenazah para tawanan yang telah meninggal akan lebih rumit, mengingat skala kehancuran di Gaza. Hamas mengatakan membutuhkan waktu untuk menemukan jasad-jasad tersebut, sementara pemerintah 'Israel' meragukan kemampuan Hamas untuk melakukannya.

Kondisi ini bisa memperumit upaya mencapai penyelesaian akhir perang, karena 'Israel' menolak membebaskan tahanan Palestina apa pun sebelum seluruh tawanan 'Israel' dikembalikan. (zarahamala/arrahmah.id)