Memuat...

Staf dan Dokter Palestina Jatuh Pingsan Akibat Kelaparan dan Kelelahan di Gaza

Zarah Amala
Rabu, 23 Juli 2025 / 28 Muharam 1447 10:27
Staf dan Dokter Palestina Jatuh Pingsan Akibat Kelaparan dan Kelelahan di Gaza
UNRWA mengatakan telah menerima puluhan pesan darurat dari stafnya yang menggambarkan kondisi yang sangat buruk dan kelelahan di wilayah kantong tersebut [Getty]

GAZA (Arrahmah.id) - Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, menyampaikan pada Selasa (22/7/2025) bahwa para stafnya, termasuk dokter dan relawan kemanusiaan, mengalami kelaparan dan kelelahan ekstrem hingga pingsan saat bertugas di Gaza.

UNRWA melaporkan telah menerima puluhan pesan darurat dari staf mereka yang menggambarkan kondisi yang sangat mengerikan di wilayah yang terkepung itu.

“Tak ada yang luput: para penjaga di Gaza kini juga butuh dijaga. Dokter, perawat, jurnalis, dan relawan semua kelaparan,” ujar Lazzarini dalam sebuah pernyataan yang dibacakan oleh juru bicaranya dalam konferensi pers di Jenewa.

“Banyak dari mereka kini pingsan saat bertugas, entah sedang melaporkan kekejaman atau mencoba meringankan penderitaan.”

Lazzarini Kecam Skema Bantuan ‘GHF’ yang Didukung AS

Lazzarini juga mengecam skema distribusi bantuan kemanusiaan yang dijalankan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga yang didukung Amerika Serikat dan mulai beroperasi sejak akhir Mei, setelah 'Israel' mencabut blokade 11 pekan atas Gaza.

Ia menyebut skema distribusi GHF sebagai "jebakan maut yang sadistik".
“Penembak jitu menembaki kerumunan secara acak, seolah mereka diberi izin untuk membunuh,” tegas Lazzarini.

GHF menggunakan perusahaan keamanan dan logistik swasta asal AS, dan sebagian besar mengabaikan sistem distribusi bantuan yang dipimpin oleh PBB. 'Israel' menuduh sistem PBB telah dimanfaatkan oleh pejuang Hamas untuk menjarah bantuan, namun Hamas membantah keras tuduhan itu.

Menurut Lazzarini, lebih dari 1.000 warga Palestina telah tewas sejak akhir Mei saat mencoba mendapatkan bantuan pangan.

PBB sebelumnya juga menyatakan bahwa, sejak 15 Juli, setidaknya 875 orang tewas dalam enam pekan terakhir di lokasi distribusi bantuan yang dikelola GHF maupun dalam konvoi bantuan dari kelompok lain. Mayoritas korban terbunuh di sekitar lokasi milik GHF, sementara 201 lainnya terbunuh di sepanjang jalur konvoi bantuan.

Hingga laporan ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri 'Israel', GHF, dan COGAT, badan militer ''Israel' yang mengoordinasikan bantuan. belum memberikan komentar. Sebelumnya, GHF menyatakan kepada Reuters bahwa tidak ada insiden seperti itu di lokasi mereka dan menuduh PBB menyebarkan informasi yang menyesatkan, klaim yang dibantah oleh PBB.

Situasi di Gaza kian memburuk. Ratusan ribu warga masih kelaparan, dan kini bahkan para penyelamat pun menjadi korban. (zarahamala/arrahmah.id)