GAZA (Arrahmah.id) -- Sebuah laporan investigatif yang dipublikasikan di media internasional mengangkat temuan mengenai penggunaan senjata oleh militer 'Israel' yang dilaporkan mampu menghasilkan panas ekstrem, melebihi 3.500 °C. Senjata termal dan termobarik itu diduga digunakan dalam serangan udara yang membuat tubuh korban bisa hancur tanpa jejak.
Dilansir Middle East Eye (10/2/2026), investigasi itu menunjukkan bahwa sejumlah korban yang tewas di bawah serangan tersebut tidak meninggalkan jenazah utuh, tetapi hanya jejak darah atau fragmen kecil biologis yang tersisa di lokasi serangan.
Data yang dibagikan oleh unit pertahanan sipil Gaza yang dikutip dalam laporan menunjukkan bahwa lebih dari 2.800 warga Palestina termasuk dalam kasus di mana tubuh korban seolah menguap atau tidak ditemukan utuh, menimbulkan tanda tanya serius tentang jenis senjata yang digunakan.
Menurut pakar militer dan analis forensik yang diwawancarai dalam investigasi tersebut, bom termobarik dan munitions berlapis bahan bakar udara yang ditingkatkan dapat menciptakan kombinasi ledakan dan panas yang sangat tinggi, dengan paduan bahan seperti aluminium atau magnesium yang meningkatkan suhu dan tekanan sehingga mengakibatkan kehancuran materi organic secara ekstrem.
Media yang melaporkan temuan ini juga mencatat bahwa beberapa jenis bom yang digunakan — termasuk munisi berkomponen AS seperti MK-84, BLU-109, dan GBU-39 — dikenal dalam catatan militer sebagai bom dengan kekuatan destruktif besar, sehingga menimbulkan kritik dari kelompok hak asasi yang menyatakan bahwa penggunaan munitions ini di wilayah padat penduduk seperti Gaza berpotensi melanggar hukum humaniter internasional apabila tidak dibedakan antara target militan dan warga sipil.
Klaim penggunaan senjata termal ini bukan tanpa kontroversi. Belum ada verifikasi independen dari lembaga forensik internasional yang secara resmi mengonfirmasi teknik atau jenis munitions yang digunakan, dan militer Israel belum memberikan pernyataan resmi yang mengakui penggunaan senjata dengan karakteristik suhu ekstrim di atas.
Para juru bicara militer umumnya menyatakan serangan mereka ditujukan pada sasarannya yang berkaitan dengan keamanan dan jaringan militan dan menyangkal tuduhan pelanggaran yang disengaja terhadap warga sipil.
Sementara itu, laporan tentang ribuan orang yang masih hilang di Gaza setelah serangan makin menambah tekanan pada komunitas internasional untuk mendorong penyelidikan kredibel oleh pihak independen terhadap dugaan penggunaan senjata termal, serta implikasinya terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia. (hanoum/arrahmah.id)
